Seks Poligami, dan Serangan Jantung(Jawa Pos 18 Des 06)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

RIBUT-RIBUT di media tentang video intim anggota dewan dan penyanyi dangdut membuat seorang pasien penyakit jantung koroner (PJK) berusia 40 tahun, sebut saja Pak T, merasa risau. “Ngomong-ngomong, saya masih boleh berhubungan intim nggak, Dok?”

Karena saya tahu, bahwa dia sudah lama pisah rumah dengan istrinya, pertanyaan itu cukup menggembirakan. “Tentu saja boleh. Syukurlah, Bapak rujuk lagi dengan istri?”

Dia tersenyum. Tubuhnya condong ke depan. Suaranya lirih saat balik bertanya, “Kalau memang boleh, supaya aman bagi jantung saya, apa harus dengan istri, Dok?”

Pertanyaan itu sangat penting untuk dijawab. Tidak hanya untuk para penderita PJK, tetapi juga untuk semua orang. Apakah seks aman untuk jantung? Pada tiga penelitian di Jepang dan Jerman, ternyata angka kematian mendadak saat melakukan aktivitas seksual berkisar 0,6-1,7 persen. Artinya, di antara seratus orang yang meninggal hari ini, ada seorang yang meninggal saat beraktivitas seksual. Apakah itu berarti seks berbahaya? Tentu saja tidak. Apalagi, bila hal tersebut dilakukan dalam koridor moral. Sebab, ternyata 80 persen kematian saat aktivitas seksual tersebut terjadi bukan dengan suami atau istri yang sah!

Ingat, dengan godaan maksiat yang sangat banyak di metropolis ini, risiko tersebut bisa terjadi di sini. Bahkan, beberapa kasus lelaki yang meninggal di pelukan perempuan bukan istrinya pernah terungkap di media massa.

Jadi, apakah seks itu sehat? Karena sifatnya yang fitrah, tanpa dibuktikan secara empiris pun, seharusnya jawabannya adalah ya. Apalagi, didukung beberapa penelitian yang membuktikan bahwa ada hubungan terbalik antara aktivitas seksual dan kematian. Sebuah studi menunjukkan bahwa frekuensi aktivitas seksual berkorelasi dengan panjangnya usia bagi laki-laki. Begitu pula, sebuah penelitian di Wales. Tingkat kematian dalam sepuluh tahun lebih tinggi pada lelaki yang berhubungan seksual kurang dari satu kali sebulan dibandingkan dengan yang lebih dari dua kali seminggu.

Kabar baik bukan? Jadi, silakan beraktivitas seksual karena seks itu sehat. Terutama, bila dilakukan dengan suami atau istri Anda. Tapi, sejauh mana? Sebuah penelitian di Amerika menyimpulkan bahwa aktivitas seksual memang menjadi faktor risiko terjadinya serangan jantung, meski angkanya cukup rendah. Di antara 1.700-an pasien, hanya tiga persen yang dipicu oleh aktivitas seksual, setidaknya dua jam sebelum serangan jantung terjadi.

Berdasar perhitungan statistik, risiko relatif untuk terjadinya serangan jantung 2,5 kali pada hitungan dua jam setelah berhubungan seksual dibandingkan orang yang tidak melakukannya. Tapi, risiko itu bisa ditekan hingga 1,9 kali dengan olahraga teratur dua kali seminggu. Jika kita meluangkan waktu berolahraga tiga kali atau lebih per minggu, risikonya akan menurun hingga 1,2 kali.

Penurunan risiko pada orang yang terlatih secara fisik itu disebabkan mereka beradaptasi lebih baik terhadap perubahan dalam tubuh selama aktivitas seksual. Yakni, terjadi peningkatan aktivitas saraf simpatis dan penambahan sirkulasi hormon katekolamin akibat stres emosional dan aktivitas fisik. Peningkatan tersebut mengakibatkan denyut jantung kita bertambah hingga 140 kali per menit, rata-rata 115 kali per menit. Tekanan darah juga naik 30-50 milimeter air raksa di atas biasanya.

Pada otot jantung, aktivitas simpatik juga memaksa jantung berkontraksi lebih kuat. Padahal, sebagai efek dari katekolamin, pembuluh darah koroner malah menyempit. Akibat denyut jantung bertambah, tekanan darah meningkat, dan kontraksi jantung menguat, jantung akan membutuhkan oksigen lebih banyak. Padahal, pembuluh darah koroner menyempit. Maka, terjadilah ketimpangan antara permintaan dan suplai oksigen pada otot jantung.

Bagi jantung yang sehat dan terlatih, semua itu oke-oke saja. Beban kerja tersebut ditanggapi dengan baik, tanpa keluhan sama sekali. Tapi, siapa menjamin jantung Anda sehat? Penumpukan karat lemak di dinding yang menyempitkan pembuluh darah terjadi sejak anak-anak dan terus bertahan saat remaja serta memberat pada usia dewasa.

Apalagi, jika tiba-tiba terjadi sobekan dari karat lemak di pembuluh darah yang kemudian berinteraksi dengan sel beku darah, akan segera terbentuk sumbatan pada pembuluh darah koroner. Akibatnya, mulai terjadi episode nyeri dada dan serangan jantung. Masih untung bila itu terjadi saat Anda berada di rumah, di sisi istri tercinta. Bagaimana jika sebaliknya?

Dari sini, mungkin Anda sudah mengetahui mengapa kematian mendadak sebagian besar terjadi pada hubungan di luar pernikahan resmi alias selingkuh? Ya, hal itu terjadi karena hubungan di luar pernikahan resmi biasanya memberi stressor yang jauh lebih besar. Itu berarti risiko terjadinya serangan jantung lebih tinggi.

Setelah membaca tulisan ini, mungkin Anda bisa menduga jawaban saya kepada Pak T. Bila dilakukan dalam batas kewajaran dan tidak berlebihan, tentu tidak ada masalah bagi Pak T untuk beraktivitas seksual. Sebelum sesi pertemuan berakhir, meski agak ragu-ragu, terlontar juga pertanyaan ini. “Dok, bagaimana jika saya melakukan poligami? Apakah itu berbahaya bagi jantung saya?”

Poligami, jika semuanya baik-baik saja -itu berarti hati nurani setuju disertai restu istri dan keluarga- mungkin tidak akan banyak memberikan stressor (pemicu stres). Hanya, bila terdapat perbedaan usia yang sangat jauh, hal tersebut tentu saja akan membuat jantung Anda harus bekerja keras daripada biasanya. Anda toh tidak ingin terlihat jelek di ranjang di mata istri baru bukan?

Begitu pula, poligami yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, di bawah tangan, serta tanpa restu istri sebelumnya. Rasa bersalah dan rasa takut tidak akan jauh berbeda dengan aktivitas seksual di luar nikah. Ingat, 80 persen kematian mendadak saat aktivitas seksual terjadi saat seseorang berpaling dari istri atau suami tercinta! Jadi, selamat memilih…

Satu Tanggapan

  1. hehe, tulisannya menarik! baru tau saya ada hubungannya jg dengan serangan jantung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: