Kematian Mendadak bagi Penonton Piala Dunia 2006(Kompas, 9/6/2006)

oleh M. Yusuf Suseno

Siapkah Anda menghadapi risiko menonton Piala Dunia 2006? Selain merogoh kocek untuk meramaikan pasar taruhan dan rasa kantuk di kantor, Anda juga bisa mendapat bonus kematian mendadak akibat gangguan jantung.

Jangan anggap remeh. Salah satu yang terdata adalah saat kekalahan tak terduga Brasil dari Uruguay di partai final Piala Dunia 1950 yang menggagalkan pesta-pesta kemenangan. Terdapat tiga orang yang mati mendadak setelah bola masuk pada injury time di gawang Brasil. Nah!

Mari kita hitung risiko kematian mendadak untuk diri Anda. Coba pegang pergelangan tangan Anda. Letakkan dua ujung jari tangan tepat di atas nadi. Sudah terasa denyutnya?

Sekarang lihat jam dinding di depan Anda, lantas hitung jumlah nadi Anda selama 30 detik. Kalikanlah hasilnya dua kali. Berapa jumlah nadi istirahat Anda dalam satu menit? Berdasarkan penelitian dokter Xavier Jouven dan kawan-kawan yang dimuat di New England Journal of Medicine bulan Mei 2005, bila nadi istirahat seseorang lebih dari 75 kali per menit, terjadi peningkatan risiko 3,9 kali untuk mengalami kematian mendadak karena serangan jantung. Mengapa demikian?

Frekuensi nadi menggambarkan sebagian dari fungsi sistem saraf otonom seseorang. Pada gangguan fungsi otonom, jantung terlalu peka terhadap rangsang saraf simpatis dan terjadi penurunan aktivitas parasimpatis yang sebenarnya bersifat melindungi jantung.

Frekuensi denyut jantung yang rendah saat istirahat, kemampuan jantung untuk segera meningkatkan denyutnya saat aktivitas, dan kembali secepatnya menurunkan frekuensi denyut setelah aktivitas berakhir, menunjukkan fungsi otonom yang masih baik. Bagaimana cara memperbaikinya? Olahraga teratur minimal satu jam lima hari dalam seminggu akan menurunkan frekuensi nadi istirahat Anda dua bulan mendatang.

Faktor penyebab

Nah, bagaimana dengan faktor risiko kematian mendadak yang lain? Apakah Anda memilikinya?

Sekitar 80 persen kematian mendadak karena jantung muncul pada seseorang dengan kelainan jantung koroner. Sumbatan pada pembuluh darah jantung menyebabkan penurunan aliran darah yang mendadak, dan otot jantung tidak lagi mendapat oksigen. Dengan dipengaruhi oleh status metabolik, elektrolit dan fungsi otonom saat itu, timbullah ketidakstabilan dari sistem listrik dari jantung yang memicu terjadi gangguan irama. Apalagi jika selain penyakit jantung koroner juga sudah ada kelainan jantung yang lain, seperti pembesaran jantung dan kelainan otot jantung.

Coba bayangkan sebuah pompa air tangan yang tiap saat harus ditekan tuasnya agar air mengalir keluar. Apa yang terjadi apabila iramanya tidak teratur dan asal-asalan? Tentu saja jumlah air yang dipompa akan menurun drastis.

Fibrilasi ventrikel (getar ventrikel), yang menjadi penyebab pada 80 persen kematian mendadak merupakan salah satu contoh tersering dari suatu gangguan irama jantung. Pada getar ventrikel, otot-otot ventrikel, suatu bagian jantung yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh, hanya bergetar sangat hebat, tetapi sama sekali tidak memompa. Frekuensi getarannya sangat cepat dan tak terhitung, hingga tidak ada darah yang dihasilkan jantung. Akibatnya, tidak ada aliran darah dan oksigen ke otak dan organ-organ penting lain, termasuk jantung.

Kebalikan dari getar ventrikel, bradiaritmia atau perlambatan irama jantung juga menyebabkan fungsi pompa jantung memburuk dengan cepat. Tanpa pertolongan yang tepat, kematian terjadi beberapa saat kemudian. Bisa juga terjadi kondisi pulseless electrical activity, di mana arus listrik dalam jantung masih ada, tetapi otot-otot jantung sama sekali tidak bergerak. Kondisi ini sering berakhir dengan asistol, yang gambaran di layar monitor elektrokardiografinya (EKG) adalah garis datar lurus yang menakutkan. Anda mungkin pernah melihatnya saat menonton sinetron di televisi.

Tetapi, kini pertanyaannya adalah apakah Anda menderita penyakit jantung koroner? Jawabnya, mungkin sekali. Sering timbunan karat yang menempel pada pembuluh darah jantung berlangsung hingga mencapai titik kritis tanpa gejala. Hal ini terjadi karena proses aterosklerosis tersebut dimulai dari saat kanak-kanak, memberat saat kita mulai mengenal sate kambing, makanan cepat saji dan rokok, serta berlangsung hingga serangan jantung terjadi.

Faktor risiko

Berapa usia Anda? Usia lebih dari 45 tahun menjadi salah satu titik batas peningkatan risiko kematian. Dan, dengan bertambahnya usia, insiden dari kematian mendadak karena jantung meningkat. Tetapi, secara proporsi, tingkat kematian mendadak akibat penyakit jantung koroner pada rentang usia 20-39 tahun ternyata persentasenya lebih banyak dibanding usia 65-74 tahun. Artinya, serangan jantung pada usia muda ternyata lebih banyak yang mengakibatkan kematian mendadak dan tidak diharapkan dibandingkan usia lanjut.

Faktor keturunan juga berperan sangat penting. Kuncinya pada informasi ada tidaknya anggota keluarga yang meninggal mendadak. Sebab, beberapa kondisi yang menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung yang mematikan berhubungan dengan genetik. Misalnya Long QT syndrome, Brugada syndrome, dan Hypertrophic cardiomyopathy. Dan, bila Anda seorang pria, Anda perlu memasang kuda-kuda lebih dini. Pria berisiko hampir empat kali lipat mengalami kematian mendadak karena jantung dibandingkan wanita.

Rasanya memang tidak mungkin kita mengubah semua faktor risiko di atas. Anda toh tidak bisa memudakan diri, mengganti jenis kelamin, atau mengubah genetik Anda saat ini. Tetapi, masih ada banyak faktor yang bisa diperbaiki selama menonton putaran final Piala Dunia 2006.

Anda memiliki riwayat hipertensi alias tekanan darah tinggi? Ada baiknya Anda lebih ketat mengatur diet dan tidak lupa minum obat antitekanan darah tinggi secara teratur. Tekanan darah tinggi menyebabkan pembesaran massa otot dari ventrikel kiri. Layaknya seorang petinju yang harus mengalahkan lawan yang berat, begitu pula otot-otot ventrikel kiri berlatih melawan tekanan darah yang tinggi. Apalagi dengan stres emosional ekstra saat menonton partai favorit nanti.

Kadar lemak yang tinggi juga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan kematian mendadak. Saat ini target yang diharapkan adalah total kolesterol kurang dari 200 mg/dl, kolesterol LDL $< 100 mg/dl, kolesterol HDL $>40 mg/dl, dan trigliserida $< 150 mg/dl.

Bagaimana dengan diabetes Anda? Diabetes identik dengan kelainan kardiovaskular. Ia merupakan faktor risiko sangat bermakna untuk penyakit jantung koroner, dan dihubungkan dengan tingginya kejadian serangan jantung yang berakibat kematian mendadak. Segeralah menghubungi dokter keluarga agar gula darah Anda terkontrol dengan baik.

Ada baiknya Anda juga berhenti merokok selama putaran final Piala Dunia 2006 ini. Sejak lama, merokok diketahui menjadi salah satu faktor risiko kematian mendadak karena jantung. Karena rokok memang dihubungkan dengan perubahan fisiologi tubuh yang membuat kita rentan mengalami gangguan jantung. Antara lain adalah pembentukan trombus atau penyumbat pada pembuluh darah, peningkatan kebutuhan oksigen tubuh, dan penurunan aliran darah koroner.

Beberapa penelitian juga melaporkan hubungan yang erat antara stres dan kematian mendadak. Hampir 40 persen dari kematian mendadak akibat jantung dipicu oleh stres emosional. Apalagi bila telah ada kelainan jantung, seperti penyakit jantung koroner, penurunan fungsi ventrikel kiri, riwayat gangguan irama ventrikel, gagal jantung, pembesaran jantung, atau kelainan EKG sebelumnya.

Apabila salah satunya telanjur terjadi pada Anda, perlu perhatian ekstra agar tidak terjadi stres emosional yang berlebihan saat menonton Piala Dunia 2006. Bekerja keras pagi hingga sore hari, diteruskan perjalanan pulang ke rumah yang memancing amarah akibat macet, ditambah cekcok dengan istri, dan diakhiri oleh adu penalti yang mengecewakan, bisa membuat kita mati mendadak.

Jadi, kuncinya adalah bersikap tengah dan menghindari taruhan dalam bentuk apa pun. Meskipun Anda pendukung fanatik Brasil, toh kemenangan mereka tidak akan memengaruhi hidup Anda bukan?

Apalagi bila kita termasuk seorang pemalas. Yang ke mana-mana selalu memakai mobil, memilih naik lift dibanding naik tangga, duduk sepanjang waktu di kantor, dan pulang untuk tidur. Padahal, aktivitas fisik yang sedang dan tidak berlebihan juga mengurangi risiko terjadinya iskemia atau kondisi kekurangan oksigen pada otot jantung yang memicu terjadinya gangguan irama ventrikel dan kematian mendadak.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/09/teropong/2712617.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: