Gizi Buruk di Surabaya, Wajah Bopeng Kita(Jawa Pos 7 Feb 07)

oleh dr. M. Yusuf Suseno

Sore yang mendung. Seorang ibu berbaju lusuh bersandal jepit menggendong sosok bayi kurus di pelukan. “Siti panas Dok. Batuk pilek lagi.” Di catatan pasien tertulis kalau Siti berkali-kali datang ke klinik sosial khusus untuk kaum dhuafa pinggiran Surabaya itu dengan keluhan yang sama. Mata mungil dari wajah tirusnya menatap resah saat lepas dari gendongan sang Ibu. “Kenapa ya Dok anak saya kurus dan sering sakit?”

Jawaban pertanyaan itu sama saja dengan mengurai benang kusut kepincangan sosial di tengah masyarakat. Di satu sisi, sebagian dari kita menghabiskan malam minggu dengan antre di kedai roti untuk sepotong kue dengan harga sepuluh ribuan, atau menyeruput secangkir kopi di kafe yang kalau dirupiahkan setara dengan empat kilogram beras nomor satu. Did sisi lain seakan menjadi gambaran bagian dunia yang berbeda. Di malam yang sama, Bapaknya Siti masih mengayuh becak, berpeluh melawan kemiskinan yang menjerat untuk sekadar menghidupi kelima anaknya. Termasuk Siti, seorang gadis kecil satu tahun yang kurus dengan berat badan cuma 7 kilogram di pinggiran Surabaya.

Jumlah anak dengan kurang gizi seperti Siti memang terus bertambah di Surabaya. Pada Oktober 2006, terdapat 10 balita gizi buruk dan 104 anak gizi kurang. Bulan berikutnya, tercatat 19 balita gizi buruk dan 135 anak gizi kurang. Sedangkan pada Desember 2006, tercatat 34 pasien gizi buruk dan 116 balita gizi kurang. Malangnya, tahun ini pun sudah dimulai dengan prestasi yang menyedihkan. Terdapat 30 pasien yang harus dirawat karena gizi buruk.(Jawa Pos 25/1/07).

Di tingkat nasional, tercatat sekitar 5 juta anak dari total 18 juta balita di Indonesia yang mengalami gizi kurang. Sebanyak 1,7 juta balita juga terancam gizi buruk. Suatu angka yang sangat memprihatinkan.(Kompas 26/1/07)

Belum lagi pertanyaan ibunya Siti terjawab, ia sudah ditimpali oleh pertanyaan seorang anggota DPRD Surabaya. “Sangat memalukan. Masak di Surabaya yang ber-APBD Rp 2,3 triliun, penyandang gizi buruk masih meningkat setiap tahun. Ada apa ini?” (Jawa Pos 28/1/07)

Secara sederhana, ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang anak menderita gizi buruk. Pertama, asupan makanan yang kurang. Mengapa bisa berkurang? Tentu saja hal ini bergantung pada berapa banyak persediaan makanan yang ada di rumah. Dan makanan di rumah tergantung pada berapa banyak penghasilan orang tua mereka. Semakin miskin sebuah keluarga, semakin sedikit makanan bergizi yang tersedia.

Kedua, kondisi kesehatan anak. Seorang anak dari keluarga kaya yang berkecukupan tetapi memiliki penyakit infeksi kronis biasanya akan memiliki status gizi yang kurang. Malangnya, infeksi kronis yang menimpa anak-anak, seperti tuberkulosa (TBC) lebih, sering menimpa anak-anak miskin. Hal ini terjadi akibat lingkungan yang buruk, rumah yang pengap dan penghuni yang berjubel, menyebabkan kuman TBC yang keluar dari seorang penderita dewasa yang batuk-batuk menulari anak-anak.

Ketiga, pola makan yang salah. Bisa saja seorang ibu yang gemuk memiliki anak yang kurang gizi karena ia tidak memiliki pengetahuan dan kesabaran dalam mengasuh anaknya. Di sinilah pendidikan ibu sangat mempengaruhi hal ini. Ibu yang berpendidikan, meskipun miskin, akan tetap memberikan ASI, dan mengusahakan makanan cukup gizi pada anaknya. Sayangnya, siapa yang biasanya tidak berpendidikan? Perempuan miskinlah jawabnya.

Semua faktor ini membentuk lingkaran setan yang tak kunjung berhenti. Mereka saling mempengaruhi, saling memperburuk kondisi yang lain. Seorang bayi yang mula-mula sehat karena minum ASI akhirnya mengalami penurunan status gizi karena sang Ibu harus bekerja. Ia terpaksa mendapat pola asupan makanan yang buruk. Akibatnya, daya tahan tubuhnya menurun dan mudah sakit-sakitan.

Ketika ia harus masuk rumah sakit karena diare, misalnya, meskipun biaya rumah sakit dijamin oleh Askeskin (Askes Keluarga Miskin), sang ayah atau ibu mungkin harus berhenti bekerja untuk sementara waktu karena harus menunggui anaknya di rumah sakit. Dan ini berakibat berkurangnya penghasilan serta makin minimnya persediaan makanan di rumah untuk anak-anaknya yang lain.

Lantas, apa yang akan terjadi saat seorang anak dengan gizi buruk berhasil mengatasi sakit yang mendera dan melewati maut? Anak dengan gizi buruk akan mengalami penurunan IQ sekitar 11 poin lebih rendah, serta prestasi yang kurang di sekolah. Saat ia mencapai usia kerja, produktifitasnya pun tak sebaik yang diharapkan. Dia juga mudah diduga akan bernasib sama dengan kedua orang tuanya yang terjebak dalam ruwetnya masalah ekonomi. Kemudian menghasilkan generasi berikut yang kurang gizi pula.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kasus gizi buruk ini tidaklah terjadi secara mendadak, dan sebenarnya merupakan suatu puncak gunung es permasalahan ekonomi dan kesehatan. Proses seorang anak mencapai kondisi gizi buruk membutuhkan waktu lama. Karena itu, hak tersebut bisa mencerminkan program pemantauan kesehatan status gizi yang kurang baik, selain masalah kemiskinan yang masih terus membelenggu masyarakat.

Memang, saat ini masyarakat tertolong oleh program Askeskin yang menggratiskan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Tapi, tanpa usaha promosi dan pencegahan yang baik, semua itu tidak akan banyak bermakna untuk masa depan. Siapa yang menjamin seorang anak yang lolos dari perawatan di rumah sakit akibat gizi buruk tidak akan kembali ke rumah sakit dengan masalah yang sama?

Tak ada yang menjamin. Karena kuncinya hanya pada dua hal. Pertama adalah pelaksanaan Posyandu yang efektif. Posyandu merupakan penyelamat anak-anak dari gizi buruk agar tidak terjadi generasi yang hilang. Kedua, penanganan kemiskinan yang berjalan dengan sungguh-sungguh dari Pemerintah, agar ketimpangan sosial yang terjadi tidak semakin besar.

Entah mengapa saat membaca kegusaran anggota dewan tentang kasus gizi buruk yang mencuat di Surabaya, saya teringat dengan PP No 37/2006 yang baru saja dikeluarkan oleh Pemerintah untuk menaikkan gaji anggota DPRD kita yang terhormat. Adakah itu termasuk salah satu cara Pemerintah untuk menyelesaikan hantu kemiskinan yang mengakibatkan beberapa anak datang ke rumah sakit dengan tubuh kurus tampak tulang?

Dan ketika melihat ke dalam diri sendiri saya juga bertanya, apa yang sudah saya lakukan untuk menolong mereka yang miskin, setidaknya agar saya bisa sekali-kali membeli fried chicken di mall tanpa rasa bersalah?

Satu Tanggapan

  1. Sungguh menyedihkan melihat fenomena seperti ini. Padahal anak adalah aset bangsa yang sangat berharga.

    Dosen saya pernah bilang kalau indeks kemiskinan suatu bangsa itu diukur dari seberapa besar asupan protein dalam makanan yang dimakannya. Protein memiliki peran yang sangat penting untuk kinerja sel dalam tubuh. JIka asupannya saja kurang maka kinerja sel tidak akan optimal dan hal ini tentunya berefek pada tubuh secara keseluruhan. Jadi sering sakit – sakitan, lemah, bodoh (karena sel – sel syaraf tidak bisa menerima impuls dengan baik) dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: