Dokter, Perjuangan Menjaga Nurani (Jawa Pos, 13/1/07, salah satu tulisan favoritku)

oleh M. Yusuf S

“Dok, dokter sedang jaga ya malam ini? Tolong selamatkan suami saya ya Dok. Saya percaya kepada Dokter.” Suara ibu separuh baya itu membuat saya tak bisa berkata-kata. Kami bertukar mata, dan pandangan berkaca-kaca itu memancarkan harapan, melimpahkan kepercayaan dan harapan tak terbatas. Syukurlah, Tuhan masih menolong kami.

Tapi, saat keesokan hari Jawa Pos (9/1/06) menurunkan cover story yang menelanjangi hubungan dokter dengan detailer, saya jadi bertanya dalam hati, andaikan sang ibu membacanya, akankah matanya masih memperlihatkan kepercayaan kepada dokter jaga malam nanti?

Harapan sang ibu setengah baya tadi mencerminkan tentang besarnya beban yang harus dipikul oleh seorang dokter. Tidak salah kalau sebagian berharap agar dokter, meminjam kalimat dari sebuah lagu Iwan Fals, kadang harus menjadi manusia setengah dewa. Apa yang terjadi saat harapan tersebut terbentur pada bisnis industri farmasi yang berorientasi pada keuntungan?

Kata-kata yang sangat menarik diungkapkan oleh dokter Blumenthal di majalah kondang New England Journal of Medicine. “When a great profession and the forces of capitalism interact, drama is likely to result.” Dan, drama ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi hampir di seluruh dunia.

Dunia medis Amerika, sebagai salah satu kiblat ilmu kedokteran modern saat ini juga tak bisa melepaskan diri dari hubungan dengan industri farmasi. Di sana, dari USD 1 miliar dana yang digunakan untuk pendidikan kedokteran berkelanjutan, sebanyak USD 900 juta berasal dari industri farmasi. Bahkan, untuk publikasi suatu pedoman hubungan antara dokter dan industri farmasi yang dibuat American Medical Association pun tak lepas dari bantuan dana industri farmasi. Dan perlu diketahui, perbandingan antara jumlah detailer dan dokter di Amerika pada tahun 2001 adalah 1 banding 4,7. Jadi dibutuhkan seorang detailer untuk melayani 5 orang dokter.

Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa industri farmasi sangat menekankan hubungan baik dengan dokter sebagai satu strategi bisnis? Jawabannya jelas. Sebagai suatu industri yang sangat tergantung dari peresepan dokter, industri farmasi memang sangat membutuhkan dokter. Pemasukan mereka, sebagai suatu bisnis yang berorientasi pada keuntungan, sangat tergantung pada tangan dokter saat menulis resep. Ini menyebabkan mereka berusaha untuk membangun hubungan baik dengan dokter.

Di sisi lain, dokter sebagai mahluk “bukan setengah dewa” yang tidak bisa terbang saat menghadiri seminar di luar negeri juga membutuhkan tiket pesawat, dan tentu saja kamar di hotel selama tidak berada di rumah. Salah seorang guru saya di Semarang pernah bercerita, dalam karirnya sebagai pendidik selama lebih dari 30 tahun, beliau tidak pernah sekali pun dibiayai pemerintah untuk menghadiri seminar di luar negeri. Padahal, beliau berkewajiban mengajar ilmu yang terbaru, sehingga murid-muridnya bisa memberikan yang terbaik pada masyarakat banyak.

Nah, ilmu kedokteran memang selalu berubah. Terapi yang hari ini dianggap paling manjur bisa saja dianggap tidak bermanfaat di tahun yang akan datang. Bahkan, dengan undang-undang kedokteran yang baru, adalah suatu kesalahan apabila seorang dokter tidak mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.

Dokter Kartono Mohamad, mantan ketua IDI, dalam suatu kesempatan berkata, “Industri farmasi juga harus mengendalikan diri, tidak perlu membiayai hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan keprofesian. Kalau membayari dokter membawakan presentasi di luar negeri itu boleh. Tetapi, kalau membayari piknik seluruh keluarga dokter ke luar negeri, itu sudah di luar etika.” (KCM 28/4/06)

Tapi, bolehkah seorang dokter melakukan presentasi ke luar negeri sekaligus mampir piknik melihat sisa WTC yang dijadikan taman di New York? Itu tergantung pada pilihan sikap yang diambil oleh masing-masing dokter dengan segala konsekuensinya.

Sejak awal, setiap dokter pasti sadar bahwa pekerjaan mereka adalah profesi tua yang seharusnya bersifat mulia dan bukan semata bertujuan profit. Ada kewajiban profesi, sisi manusiawi, dan tugas luhur yang telah disumpah atas nama Tuhan saat mula-mula diwisuda sebagai dokter. Saat semua itu harus dihadapkan pada realisme dunia bisnis industri farmasi yang berorientasi profit, maka semua kembali kepada nurani sang dokter.

Saat dokter menulis resep, maka ia dituntut berpikir yang terbaik bagi pasiennya tanpa terpengaruh oleh apapun. Pertanyaannya, bisakah dokter yang sebagian perjalanan karirnya dibiayai oleh perusahaan farmasi menulis resep secara jujur dan bertanggung jawab tanpa tekanan apapun? Jawabannya sangat tergantung pada kemampuan sang dokter. Bisakah sang dokter membaca hati nuraninya saat ia menulis resep?

Menyadur dari sebuah lagu, dokter juga manusia. Ia bukan malaikat yang tak membutuhkan materi dalam hidup. Tetapi, jelas dokter juga bukan penjahat bisnis yang menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri. Kode etik kedokteran ada di dalam hati. Di palung samudra hati nurani.

Kemarin pagi, seorang ibu berbicara kepada saya. Saya tidak tahu, apakah ia membaca polemik yang diangkat Jawa Pos tentang hubungan dokter-detailer atau tidak. Suaranya melirih setelah saya menerangkan kondisi putranya yang cukup parah, “Dokter, tolong usahakan anak saya selamat Dok.” Matanya juga berair saat menatap saya. Saya menarik nafas panjang.

Meskipun saya tahu perjuangan ini cukup berat, dalam hati saya bersyukur karena masih ada seseorang yang percaya kepada saya. Adakah seseorang di luar sana yang mencurigai kalau saya menulis resep untuk menangguk keuntungan pribadi? Entahlah

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: