Antibiotika dan Proses Tumbuh Bersama(Jawa Pos 19/2/07)

oleh M. Yusuf Suseno

Beberapa siang yang lalu saya sempat terlibat perbincangan dengan tiga orang senior saya di kantor IDI Jatim, termasuk di antaranya ketua IDI Jatim dr Pranawa SpPD, KGH. Topiknya cukup menarik, yakni tentang masa depan dokter di Indonesia. Dalam diskusi itu sempat terlontar pernyataan dr Pranawa kalau nasib dokter Indonesia saat ini sangat mengenaskan. Dipojokkan, diikat dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran yang beberapa pasalnya kurang rasional dengan ancaman hukuman sangat berat, bahkan, entah sengaja atau tidak, secara sistematis dilunturkan integritasnya di masyarakat.

Begitu berat beban yang harus ditanggung oleh seorang dokter di Indonesia, hingga muncul pertanyaan ironis dari salah seorang di antara dokter senior tersebut, “Mengapa ya, masih ada yang mau masuk fakultas kedokteran dengan biaya pendidikan yang saat ini juga makin mahal, hanya untuk memikul tanggung jawab sebesar itu, dengan reward yang tidak sebanding dengan risikonya?”

Salah satu imbas dari proses penurunan tingkat kepercayaan kepada dokter di tanah air ini adalah larinya pasien ke dokter-dokter di luar negeri. Sebuah data menyebutkan, di Singapura saja setiap tahunnya sekitar 300.000 pasien internasional datang berobat. Sebagian dari mereka merupakan pasien Indonesia. (KCM 12/1/07).

Padahal kondisi di luar negeri bukan berarti tanpa cela. Termasuk dalam penggunaan antibiotika yang menjadi cover story rubrik Metropolis Jawa Pos di hari valentine 2007.

Salah satu laporan terbaru tentang penggunaan antibiotika yang berlebihan dari Amerika dicantumkan di majalah Academic Emergency Medicine tahun 2006. Dari 2.270 kunjungan ke unit gawat darurat untuk penyakit pernapasan akut, 63 persen mendapatkan antibiotika. Ternyata, setengah dari peresepan itu ditujukan pada pasien dengan kategori penyakit yang tidak respon terhadap antibiotika.

Begitu juga di Kanada. Majalah Antimicrobial Chemotherapy tahun 2006 melaporkan bahwa di British Colombia, penggunaan antibiotik jenis makrolid generasi baru yang disinyalir menambah resistensi kuman juga terjadi pada pasien anak-anak. Penggunaan ini terutama ditujukan pada kasus infeksi saluran pernapasan, yang sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh virus, dan bukan bakteri. Padahal antibiotika bukan untuk melawan virus.

Bagaimana dengan Indonesia? Penelitian AMRIN di dua rumah sakit besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada tahun 2001 memang menunjukkan bahwa penggunaan antibiotika secara tidak rasional mencapai 70 persen. Suatu hal yang patut menjadi wacana tilik diri bagi para dokter di Indonesia. (Jawa Pos 10/1/2007).

Untuk itu, sebagai sebuah bagian besar dari dunia kedokteran dunia yang terus bergerak memperbaiki diri, para dokter di Indonesia memang masih harus terus belajar. Salah satunya adalah tentang pemakaian antibiotika. Kalau para dokter di Amerika dan Kanada yang digaji super jumbo saja masih terus diingatkan tentang penggunaan irasional antibiotika, mengapa kita tidak? Padahal, perbandingan antara mereka dan kita adalah perbandingan antara negara pemberi utang alias ’rentenir’, dan negara penuh hutang alias ’buruh tani kebanjiran lumpur panas’.

Sebenarnya, apa penyebab para dokter terkesan mudah memberi antibiotika pada pasien-pasiennya? Termasuk pada infeksi yang sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh virus seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare pada anak-anak?

Claudie, seorang dokter spesialis anak berkebangsaan Perancis yang pernah blusukan bersama saya di pedalaman kepulauan Maluku Utara pasca konflik SARA pernah menegur saya. Wanita 60-an tahun itu bertanya, “Mengapa kamu memberi antibiotik pada anak dengan diare ini? Kamu tahu kalau sebagian besar diare pada anak disebabkan virus?” Saya mengangguk.

Tapi saya katakan padanya kalau balita ini gizinya kurang, intake makannya buruk, lingkungan rumah dan sumber airnya kotor, dan kita akan meninggalkannya di pulau ini tanpa pengawasan lebih dari seminggu dengan diare karena virus yang belum tentu membaik cepat. Apa ada jaminan bahwa ia takkan mendapatkan bonus infeksi sekunder karena bakteri akibat daya tahan tubuh yang menurun? Bagaimana jika seminggu lagi kita menemukannya dalam kondisi terinfeksi berat (sepsis)?

Ia terdiam. Diamnya atasan saya tersebut saat itu saya pegang sejenis hukum, seperti sahabat Nabi yang memegang diamnya Nabi sebagai persetujuan. Tapi, toh setelah momen itu berlalu, saya mendapat banyak ilmu dan beberapa ajaran kebijakan. Satu hal yang sangat saya hargai sebagai dokter belum berpengalaman yang haus akan pencerahan. Akhirnya, kami membuat persetujuan bahwa pemberian antibiotika untuk infeksi yang diduga kuat karena virus harus dilakukan dengan hati-hati.

“Tidak untuk semua kasus,” katanya sambil tersenyum sejuk. Maknanya mirip kalimat bijak almarhum guru besar yang saya hormati, Prof Boedhi Darmojo saat pertama kali memberi kuliah diagnosa fisik. “Anak-anakku, medicine is science and art.”

Menjadi dokter, entah dokter umum maupun spesialis yang sungguh-sungguh ahli, seperti juga menjadi manusia, adalah proses belajar. Dan belajar memerlukan waktu. Tidak semua ilmu dan kebijaksanaan yang bisa menciptakan dokter paripurna didapat dalam masa pendidikan. Dengan segala keterbatasan fasilitas, dokter Indonesia memang harus belajar untuk menjadi lebih cakap, dan belajar melayani klien kita lebih lembut, penuh edukasi dan perhatian.

Tapi, apakah iklim yang diciptakan oleh pemerintah melalui Undang-undang Praktik Kedokteran, sistem pendidikan di fakultas kedokteran, sistem penggajian dan pembayaran honor dokter, tempat kesehatan pemerintah yang minim fasilitas dibanding jumlah pasien yang membludak, elemen industri kapitalisme kesehatan (rumah sakit swasta, penyelenggara asuransi kesehatan dan farmasi), media massa, serta masyarakat saat ini mendukung proses belajar itu?

Coba bayangkan kisah berikut ini. Ibu seorang balita yang panas dan batuk pilek selama 3 hari, malam kurang tidur ditemani sirup obat flu biasa, sangat mungkin minta diresepkan antibiotika kepada dokter. Meski agak menyimpang dengan prinsip umum penatalaksanaan ISPA di tempat ia bekerja, pasti akan mudah bagi seorang dokter untuk meluluskan permintaan ibu yang gelisah itu.

Ketika dokter yang kelelahan itu menanyakan riwayat alergi obat pada si ibu, pasien dengan nomor urut 40 itu tak begitu mengerti. Si dokter pun segera berlalu pada pasien keempat puluh satu. Apalagi karena ia baru saja jaga semalam di unit gawat darurat sebuah rumah sakit swasta, dengan honor yang kecil pula. Adakah UU Praktek Kedokteran bisa memperbaiki hal itu?

Seorang guru besar hukum dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Prof Dr Wila Chandarwila Supardi SH mengatakan, dengan UU Praktek Kedokteran yang baru, yang akan terjadi adalah makin mahalnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat.(Pikiran Rakyat 29/10/2005).

Jangan heran kalau akan datang suatu masa di mana pelayanan kesehatan akan mencapai harga yang menakjubkan, terutama untuk pelayanan di luar rumah sakit pemerintah. Sebab, selain bersiap diri terhadap tuntutan malapraktik, para dokter juga mulai berpikir untuk berlindung di balik asuransi terhadap ancaman denda UU Praktek Kedokteran. Siapa yang akhirnya dibebani semua itu?

Ah, rasanya memang begitu banyak pekerjaan rumah di bidang kesehatan yang menanti di tanah air. Salah satunya adalah peresepan antibiotika yang berlebihan. Sementara pemerintah dan DPR bertugas membuat undang-undang dan peraturan menteri yang terbaik dan sungguh-sungguh memihak rakyat, maka media massa berkewajiban mendidik masyarakat banyak. Para dokter pun juga berkewajiban mendidik diri sendiri, selain juga sebagai pendidik bagi pasiennya.

Mari belajar dan tumbuh bersama. Mereka yang kaya berhak memutuskan pergi ke luar negeri guna mencari kesembuhan. Tapi, saudara kita yang tidak bisa memilih karena terlanjur miskin dan sakit, telah lama antre di bangku panjang di depan ruang poli menunggu dipanggil, menanti ditolong. Adakah yang sungguh peduli?

Satu Tanggapan

  1. tulisan yang sangat menginspirasi…
    salam kenal Dok, ijin saya add FBnya ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: