Sepak Bola dan Kematian Mendadak (Suara Merdeka 3/3/2011)


BENARKAH sepak bola memicu serangan jantung? Bisakah futsal menyebabkan kematian mendadak? Jawabannya tak tergantung apakah Anda pro ISL atau pesaing barunya, Liga Premier Indonesia. Adalah fakta kalau beberapa selebriti Indonesia meninggal sesaat setelah memainkan bola bundar. Aktor Benyamin Sueb, pelawak Basuki, dan beberapa saat lalu artis Adjie Massa’id.

Selain mereka yang amatir, pemain profesional pun tak luput dari bahaya kematian dini akibat bermain bola. Bertahun lalu Eri Irianto dari Persebaya harus dilarikan ke RS saat pertandingan melawan PSIM, dan ia dinyatakan meninggal karena gagal jantung. Lepas dari kontroversi yang ada.

Masih ingat bintang sepakbola Kamerun Marc-Vivien Foe? Ia jatuh di lapangan hijau, dan meninggal mendadak di usia ke-28 saat melawan Colombia dalam semi final Piala Konfederasi tahun 2003. Nasib yang sama juga menimpa Miklos Feher, 24 tahun, stri-ker asal Hungaria di klub Benfica Portugal 7 bulan kemudian.

Ia terjatuh sesaat setelah tersenyum pada wasit yang memberinya kartu kuning. Begitu pula dengan Phil ”Donnell, 35 tahun, kapten tim Motherwell (Skotlandia) tahun 2007. Mereka hanya sebagian kecil dari para atlit muda yang mati mendadak saat bermain bola.

Tapi tak hanya pemain. Pe-nonton sepak bola pun berisiko mengalami kematian mendadak. Salah satu yang terdata adalah saat kekalahan tak terduga Brasil dari Uruguay di partai final Piala Dunia 1950. Terdapat tiga orang yang mati mendadak setelah bola masuk ke gawang Brasil saat injury time. Terakhir, seorang warga Makassar mengalami serangan jantung saat menonton pertandingan Indonesia melawan Filipina di piala AFF lalu.

Bagaimana dengan Anda? Tidakkah Anda juga berisiko mengalami kematian mendadak? Coba pegang pergelangan tangan Anda. Letakkan dua ujung jari tangan tepat di atas nadi. Sudah terasa denyutnya? Sekarang lihat jam dinding, lantas hitung jumlah nadi Anda selama 30 detik. Kalikanlah hasilnya dua kali. Berapa jumlah nadi istirahat Anda dalam satu menit? Berdasar hasil penelitian dokter Xavier Jouven dkk yang dimuat NEJM Mei 2005, bila nadi istirahat seseorang lebih dari 75 kali per menit, terjadi peningkatan risiko relatif sebesar 3,9 kali untuk mengalami kematian mendadak karena serangan jantung.
Penyumbatan Bagaimana dengan faktor risiko kematian mendadak yang lain? Apakah Anda memilikinya? Meski tidak semua kematian mendadak disebabkan serangan jantung, hampir 80 %-nya dipicu oleh penyumbatan pembuluh darah koroner. Terutama pada mereka yang tak lagi muda. Sumbatan tiba-tiba ini menyebabkan penurunan aliran darah, dan otot jantung pun tak lagi mendapat oksigen. Timbullah ketidakstabilan dari sistem listrik jantung yang memicu terjadinya gangguan irama.

Begitu pula jika sudah terdapat kelainan jantung yang lain, seperti pembesaran ruang jantung dan kelainan otot. Pada mereka yang berusia muda seperti pesepakbola Miklos Feher dan Marc Vivien Foe, hypertrophic cardiomyopathy (HCM), suatu kondisi dimana terdapat penebalan otot jantung tak wajar dituding menjadi penyebab utama. Gangguan irama jantung akan selalu membayangi kelainan ini.

Gangguan irama jantung paling fatal adalah kelainan yang disebut ventricular fibrillation (getar ventrikel). Ia bertanggung jawab pada 80 % kematian mendadak. Pada getar ventrikel, otot-otot ventrikel jantung hanya bergetar sangat hebat, tetapi sama sekali tidak memompa. Akibat ketiadaan aliran darah dan oksigen ke otak serta organ-organ penting lain, terjadilah kematian dini yang tak diharapkan.

So, jawaban pertanyaan di awal tulisan ini adalah YA. Sepak bola dan futsal memang bisa menjadi pemicu kematian mendadak dan serangan jantung yang fatal. Di Inggris, dalam penelitian yang berlangsung sepuluh tahun, terdapat 53 pemain sepak bola yang mengalami kematian mendadak, sebagian besar bermain di tingkat amatir. Namun ternyata ancaman ini tak terbatas pada sepak bola saja. Dari statistik, satu dari 15.000 orang yang melakukan jogging akan mengalami kematian mendadak karena kelainan jantung.

Karenanya, deteksi dini kelainan jantung, baik kelainan jantung koroner maupun kelainan otot jantung yang memicu kematian mendadak adalah kunci terpenting. Tes elektrokardiografi(EKG), tes treadmill dan ekhokardiografi adalah modalitas non invasif yang dimiliki dokter, terutama dokter spesialis jantung. Dari data tersebut, dokter akan bisa memberi saran tentang olah raga terbaik yang menyehatkan, bukan membahayakan. Nah, selamat bermain sepak bola, semoga sehat selalu!

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/03/138769/Sepak-Bola-dan-Kematian-Mendadak-

Berpulang pada Nurani Kasus Prita (Suara Merdeka 16/10/2010)

oleh M. Yusuf Suseno

Kasus hukum perdata Prita telah diputuskan. Di mata hukum pertikaiannya dengan RS Omni Internasional telah usai (Suara Merdeka 9/10/2010). Namun sebagai bagian dari sejarah, makna apa yang bisa kita dapat dari kasus ini? Jika kasus ini kita anggap cermin, bagian wajah mana yang perlu kita pulas  dan perbaiki?

Surat Prita yang tersebar luas di internet memang sangat menohok. Tidak hanya bagi dokter dan manajemen RS Omni, namun juga bagi para teman sejawatnya. Tak heran RS Omni bereaksi cukup keras.

Entah menimpa Prita atau yang lain, satu hari perseteruan antara rumah sakit  versus pasien di kubu lain pastilah muncul. Karena dunia layanan kesehatan memang terus berubah. Hubungan antara pasien, dokter dan rumah sakit tak lagi sama seperti 20 tahun lalu. Jumlah dokter terus bertambah. Penegakan diagnosa penyakit menjadi lebih cepat dan efisien. Terapi medis tak henti menemukan hal baru. Namun selain biaya yang membengkak, di sisi lain, mutu hubungan antara dokter, rumah sakit, dan pasien, malah menurun.  Dalam kasus Prita, hingga titik nadir.

Tingkat kepercayaan pasien terhadap dokter yang dulu begitu besar, kini terseok-seok di belantara prasangka. Interaksi dokter dan pasien yang dulu begitu intensif, perlahan menurun, digantikan oleh alat diagnostik yang lebih canggih. Sebagian tangan, mata dan telinga dokter mulai tergantikan. Rumah sakit telah berubah wujud. Ia tumbuh dari ide mulia tentang bagaimana sebuah institusi bisa menolong sebanyak mungkin orang, menjadi sebuah industri jasa yang menjanjikan. Mereka saling berlomba mendapatkan pangsa pasar sebesar-besarnya. Di sebagian rumah sakit, nilai-nilai luhur condong menjadi pragmatis ekonomis.

Rumah sakit pemerintah yang bertarif murah menghadapi ancaman overload. Membludaknya pasien membuat tidak optimalnya komunikasi dokter dan pasien. Dokter tak sempat berlama-lama bicara, karena di depan pintu poliklinik atau UGD telah menunggu berpuluh pasien lain. Padahal Dr Barrier dari Mayo Clinic satu hari menulis, salah satu cara untuk memperbaiki hubungan dokter dan pasien adalah pertanyaan, “What else?” Satu jenis pertanyaan terbuka. Metoda yang menjadikan pasien sebagai pemegang kendali, pusat dari anamnesa. Banyak dokter yang akan berkata bahwa hal itu tak mungkin dilakukan. Hasilnya adalah idealisme yang pelan melayu. Dokter jelas bukan malaikat.

Hal ini berlanjut hingga saat pasien masuk bangsal. Sebagian rumah sakit pemerintah harus menghadapi kendala kurang rasionalnya perbandingan perawat dan pasien. Akibatnya kesan kalau rumah sakit publik adalah institusi tak ramah masih melekat. Apakah hal ini terjadi pada rumah sakit swasta? Seharusnya tidak.  Namun kenyataannya, beberapa pasien tetap saja mengeluh. Termasuk Prita.

Padahal kunci dari terbukanya pintu tuduhan malpraktek adalah komunikasi yang buruk antara dokter dan pasien. Penelitian Beckman di Arch Intern Med tahun 1994 mendapati ada 4 faktor pemicu tuntutan malpraktek di Amerika.  Penelantaran pasien, kurangnya penghargaan terhadap pendapat pasien dan keluarga, cara pemberian informasi buruk, serta kegagalan memahami pandangan pasien. Untuk itulah beberapa asuransi malpraktek di Amerika memberikan diskon pada dokter yang mau mengikuti pelatihan komunikasi.

Jika dirunut ke belakang, selain sistem, mungkinkah kuncinya ada di institusi pencetak dokter? Berapa lama mata kuliah komunikasi diberikan di fakultas kedokteran? Cukupkah para dosen klinis di rumah sakit memberikan contoh cara komunikasi yang baik terhadap pasien? Alangkah sayang jika mahasiswa kedokteran yang kini harus membayar mahal hanya mengenal model paternalistik sebagai pendekatan satu-satunya.

Padahal model paternalistik saat ini disinyalir menjadi sumber maraknya tuntutan malpraktik. Karena pada model ini, interaksi antara dokter dan pasien laksana orang tua dan anaknya, hingga dokterlah yang memastikan terapi terbaik. Dokter menjadi penentu keputusan. Keputusan yang di kemudian hari sering dipertanyakan, terutama jika terjadi efek samping dan komplikasi.

Di kubu lain, sudah saatnya model informatif yang setara ditekankan pada mahasiswa fakultas kedokteran. Pada model ini, segala informasi, termasuk diagnosa sementara dan pilihan pemeriksaan penunjang diberikan pada pasien atau keluarga. Dokter menjelaskan jenis pilihan obat, tindakan operasi, efek samping maupun resiko-resiko. Keputusan terapi ada di tangan pasien atau keluarga. Ketidakpuasan pasien diminimalisir.

Sayangnya model informatif juga menyita waktu dokter dan perawat. Seorang dokter umum di Puskesmas dengan 50 pasien sehari pastilah akan kerepotan jika harus menerangkan satu demi satu efek samping obat. Pertanyaan ideal seperti, “Ada lagi Bu yang ingin disampaikan?” pasti sangat jarang terucap.

Tidak mudah memang mengurai benang kusut prasangka antara pasien, dokter dan rumah sakit. Diperlukan peraturan perundangan yang benar-benar mewakili kepentingan semua pihak. Lantas, apa yang terjadi jika kekecewaan yang menimpa Prita kembali menimpa pasien lain? Haruskah menyebar kabar buruk ke semua orang? Mestikah berakhir di jalur hukum? Tentu saja tidak. Akan lebih baik jika semua pihak duduk bersama. Dokter, rumah sakit, pasien. Lantas seperti Prof Budi Susetyo Juwono, guru besar kardiologi Unair berkata, inilah saatnya kita berpulang kembali pada hati nurani. Karena kembalinya nurani akan selalu menjadi penenang, menjadi pengurai kekusutan.

Di atas adalah versi yang saya kirim. Versi cetak di SM banyak potongan yang kurang pas. Ini link-nya : SUARA MERDEKA

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 811 pengikut lainnya.