Seribu Kota Seribu Kehidupan (Jawa Pos, 7 April 2010)

ADA sisi positif dari usainya musim penghujan. Genangan air berjentik nyamuk melenyap. Anak-anak tak lagi bermain di comberan besar. Pengap bangsal rumah sakit di kota-kota Indonesia mulai berkurang. Grafik angka kesakitan dan kematian akibat demam berdarah dan diare menurun. Masyarakat dan pemerintah kota bernapas lega. Satu krisis selesai.

Namun, benarkah krisis kesehatan kota kita telah berlalu? Tema Hari Kesehatan Sedunia (HKS) 2010 yang jatuh pada 7 April ini menjawab pertanyaan tersebut. WHO ternyata masih memilih urbanisasi dan kesehatan sebagai fokus utama dengan slogan “Seribu Kota, Seribu Kehidupan”. Ini menunjukkan bahwa secara global masih ada masalah dengan kesehatan kota.

Menurut WHO, pada 2007 lebih dari 50 persen populasi penduduk dunia tinggal di kota, dan angka ini terus bertambah. Diperkirakan pada 2030 enam dari 10 orang di dunia tinggal di perkotaan, lantas meningkat menjadi 7 dari 10 orang pada 2050.

Bagaimana Indonesia? Pada 2009, lebih dari 43 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan, dan pada 2025 akan ada lebih dari 60 persen penduduk yang tinggal di kota.

Mari kita lihat dua kota terbesar Indonesia. Pada 2002 penduduk Surabaya terdiri atas 2,4 juta jiwa, tapi 2009 telah mencapai 3,2 juta penduduk. Pada 1990 penduduk Jakarta sejumlah 8,23 juta jiwa, namun pada 2010 diperkirakan telah mencapai 12 juta jiwa pada siang hari, meski kembali pada angka 9 juta pada malam hari.

Pertumbuhan wilayah perkotaan adalah laku manusiawi yang tak terbendung. Apalagi jika dilihat dari kacamata ekonomi. Tingkat pendapatan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia memang terkait dengan tingkat urbanisasi. Data UNEP 2002 menunjukkan bahwa Bangkok yang hanya terdiri atas 12 persen populasi Thailand menghasilkan 40 persen GNP negara tersebut.

Secara keseluruhan, kota-kota di negara berkembang memiliki andil antara 50 hingga 80 persen dari GNP negaranya. Jumlah yang sangat signifikan. Karena itu, adalah sangat wajar jika manusia terus bergerak ke tempat di mana uang dan perekonomian lebih banyak beredar. Kota menawarkan lapangan kerja, kualitas pendidikan yang lebih baik, informasi yang lebih lengkap dan layanan publik bermutu. Bahkan, diakui atau tidak, tingkat layanan kesehatan juga lebih baik. Seperti laron dan nyala api, penduduk Indonesia pelan tapi pasti akan terus bergerak menuju kota. Lantas, apa yang telah dan akan terjadi?

Rumah-rumah tak permanen di sepanjang bantaran sungai, rel kereta api, tempat penampungan sampah, dan tanah tak bertuan adalah fenomena kota. Begitu pula kemiskinan. Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), terdapat 323 ribu orang miskin di Jakarta. Warga urban dan kemiskinan terus menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, sedangkan di sisi lain kebutuhan akan listrik, air bersih, dan layanan publik meningkat. Membebani kota. Pengangguran, satu ancaman kota akan terus ada. Tingkat pengangguran terbuka di Jakarta, mencapai 12,15 persen pada Agustus 2009, atau berkisar 560 ribu orang.

Efek urbanisasi yang tak terkontrol menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup yang masif. Rumah-rumah tak sehat diisi oleh banyak penghuni. Penyebaran penyakit infeksi tergolong tinggi, antara lain infeksi saluran napas akut, influensa (H1N1), tuberkulosis, diare, demam berdarah, penyakit jantung rematik, cacingan, juga HIV/AIDS. Belum penyakit lain yang terkait dengan polusi udara serta konsumsi rokok seperti infeksi paru, penyakit paru obstruktif menahun, kanker paru, dan asma.

Beban kesehatan masyarakat kota juga meningkat akibat kasus penyakit gaya hidup. Konsumsi berlebih lemak dan makanan cepat saji, kurangnya olahraga, rokok, stres, dan gaya hidup tak sehat memicu diabetes, hipertensi, serangan jantung, dan stroke yang timbul lebih dini. Belum termasuk kecelakaan kerja dan kecelakaan lalu lintas.

Satu hal yang belum banyak disentuh adalah gangguan jiwa akibat urbanisasi. Anak-anak miskin kota memiliki masalah psikologis yang tinggi, termasuk ancaman kekerasan fisik dan seksual dari orang dewasa. Tingginya angka pengangguran, tingkat kemiskinan, dan minimnya layanan kesehatan jiwa di daerah miskin kota menjadikan masalah gangguan jiwa penduduk urban layaknya fenomena gunung es.

Namun, kota dengan segala kondisinya sebenarnya memiliki keuntungan. Peluang bagi warganya untuk tetap bisa hidup sehat. Pertama, adanya kaum urban yang kaya dan berpengaruh di perkotaan. Suara mereka, secara ekonomi dan politis, seharusnya lebih didengar oleh pemerintah. Ini terkait dengan kualitas lingkungan perumahan dan layanan kesehatan bermutu. Termasuk rumah sakit milik pemerintah.

Kedua, adanya kaum urban dengan pendidikan tinggi juga seharusnya lebih menguntungkan. Terutama jika mereka mau berbuat sesuatu demi kesehatan kota tempat tinggalnya. Pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri, gerakan bersepeda ke tempat kerja, penanaman dan penghijauan kota, serta usaha lain untuk mencintai dan menjaga kesehatan kota tempat tinggal mereka sangatlah penting.

Kedua komponen warga kota tersebut, mereka yang mapan secara ekonomi maupun pendidikan, seharusnya tak melupakan tanggung jawabnya terhadap kota tempat mereka tinggal. Wabah demam berdarah tak hanya menyerang warga miskin kota, tapi juga masyarakat kelas menengah. Bahkan, seorang direktur BUMN meninggal meski telah dirujuk ke rumah sakit luar negeri.

Pemerintah kota dengan segala hiruk-pikuk laku politiknya tetaplah menjadi komponen terpenting. Perencanaan tata kota yang sehat, tegaknya perda antirokok, taman kota yang diperbanyak, kontrol ketat pada tingkat polusi, adanya layanan transportasi masal yang aman dan nyaman, serta promosi kesehatan yang intensif adalah sebagian tanggung jawab pemerintah. Termasuk kembalinya puskesmas kota pada khitahnya sebagai tulang punggung usaha promotif dan preventif. Bukan melayani aspek pengobatan belaka. Kesadaran penuh dan laku tanggung jawab pemerintah kota yang bebas dari kolusi, korupsi, dan kepentingan politik sesaat sangatlah didamba.

Alangkah hidup dan indahnya kota jika warga kota dan pemerintahnya menyadari peran masing-masing. Dan, harapan “Seribu Kota, Seribu Kehidupan” adalah benar adanya. (*)

*). dr. M. Yusuf Suseno, pemerhati sosial, tengah menjalani pendidikan spesialis di Kota Surabaya.

Koin Prita dan Dokter Indonesia

Koin Prita dan Dokter Indonesia

Oleh: M. Yusuf Suseno

SAAT vonis denda 204 juta rupiah dijatuhkan kepada Prita Mulyasari, sontak beribu simpati datang dari masyarakat. Rakyat merasakan ketidakadilan telah menimpa Prita. Kemarahan publik melahirkan gerakan pengumpulan koin untuk Prita. Mengapa koin? Sebab, uang receh itu didaulat sebagai lambang perlawanan rakyat kecil kepada sistem yang lebih besar. Dalam kasus ini, kubu yang besar adalah RS Omni Internasional yang dipandang sebagian orang telah bersikap cukup arogan, plus sistem peradilan yang dinilai tak memihak rasa keadilan rakyat kecil.

Bukan hanya anggota Komisi Yudisial yang prihatin atas putusan itu, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih pun ikut gerah. Tim mediasi dari Depkes diutus untuk kembali menengahi pertikaian antara Prita dan RS Omni. ”Hubungan dokter-pasien seharusnya tolong-menolong, bukan tuntut-menuntut,” kata Menkes (JP 9/12/09). Kegelisahan Menkes itu membuktikan bahwa selain mengganggu rasa keadilan, gerakan koin untuk Prita juga merepotkan pucuk pimpinan birokrasi kesehatan di negeri ini.

Mengapa demikian? Sebagai kasus yang semula berbau dugaan malapraktik yang dilakukan RS Omni Internasional terhadap Prita (meski tak terbukti), konflik ini telah menjadi cermin bagi dunia kesehatan di tanah air. Kericuhan yang diliput luas oleh media tersebut mewakili hubungan pasien, dokter, serta rumah sakit yang makin rapuh.

Komentar dan pertanyaan masyarakat pun beragam. Salah satu yang paling penting dijawab adalah pertanyaan tentang kualitas pelayanan kesehatan di tanah air. Apa yang terjadi dengan pelayanan kesehatan dalam negeri? Mengapa banyak orang kaya yang lari ke Singapura dan Penang untuk berobat? Apakah semata karena teknologi kesehatan? Benarkah berita tentang dugaan malapraktik di media massa yang muncul tiap minggu itu?

Era krisis kepercayaan tersebut telah diramalkan jauh-jauh hari. Suatu hari, Sir William Osler, Bapak Kedokteran Modern, ditanya tentang definisi dokter yang pintar. Dia dengan lugas menjawab, ”Sesungguhnya tak ada seorang pun yang bisa disebut dokter yang pintar. Di dunia ini hanya ada dua macam dokter. Dokter yang baik dan dokter yang buruk.”

Kita boleh tidak setuju terhadap Sir William. Namun secara tak langsung, Profesor Abraham Verghese, seorang ahli penyakit infeksi sekaligus penulis terkenal dari Amerika, berkata, ”Seorang pasien yang menyukai dokternya takkan pernah menuntut, apa pun yang terjadi, apa pun bujukan si pengacara.”

Kedua pernyataan tokoh dunia kedokteran dari era yang berbeda itu sebenarnya telah menjawab penyebab meruncingnya hubungan pasien dan dokter dalam beberapa kasus. Sayang, hal itu tak kunjung disadari oleh para pemegang kebijakan, pemilik industri kesehatan, maupun para komunitas dokter.

S.G. Jeffs, seorang dokter Inggris, yang jika masih hidup pastilah akan dianggap puritan, puluhan tahun lalu menulis hal yang sangat mendasar. Satu prinsip yang seharusnya terus ditekankan para dosen kepada para mahasiswa di fakultas kedokteran. ”Nobody is another case of… You have no cases. You have patients who are human beings with feelings and emotions.” Kalimat ini mungkin terdengar aneh. Siapa pula yang masih berbicara tentang perasaan dan emosi dalam dunia masa kini yang tergesa?

Para perumus kurikulum pendidikan dokter di masa mendatang seharusnya terus memberikan porsi lebih besar kepada pendidikan dan latihan komunikasi. Sehingga mahasiswa kedokteran memiliki bekal kemampuan berkomunikasi yang lengkap, jujur, sabar, empatis, positif, dan mudah dimengerti. Sebab, hanya dokter yang dapat berkomunikasi dengan baik, berempati, dan bisa meletakkan dirinya pada sudut pandang pasienlah yang akan selamat dari ancaman krisis tuntutan malapraktik.

Di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, praktik kedokteran kadang-kadang dipaksa berubah hanya untuk menjadi baut kecil dari bisnis jasa rumah sakit. Hal yang sama juga terjadi di belahan dunia lain. Apa arti dokter yang pintar tapi dianggap kurang ramah, yang kesibukannya tenggelam di tengah keluhan pasien? Bukankah ini berarti para dokter Indonesia juga harus siap mengumpulkan koin guna menghadapi jutaan rupiah tuntutan malapraktik?

Sungguh, Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli. Alat-alat di rumah sakit rujukan pun cukup lengkap. Bahkan, Amerika dan Eropa pun mengakui bahwa mereka tidak ahli dalam semua penyakit. Berbagai jenis penyakit infeksi khas dunia ketiga seperti malaria, demam berdarah, dan penyakit jantung rematik yang akrab dengan kedokteran Indonesia tak selalu dikuasai Barat.

Namun, mengapa RS di Singapura dan Penang menjadi tujuan pasien dari Indonesia? Itu disebabkan mereka berusaha membuat nyaman pasien dan keluarga. Juga kesiapan dokter untuk berkomunikasi dan memberikan informasi secara utuh. Apalagi mereka sangat sadar bahwa rakyat Indonesia adalah pangsa pasar yang besar, dan layanan kesehatan adalah industri jasa yang menjanjikan. Tanpa orang Indonesia, rumah sakit di Singapura dan Penang akan merugi karena investasi yang tak kembali.

Saat ini dunia layanan kesehatan Indonesia tengah menghadapi tantangan sangat berat. Dan jawabannya ada di tangan pihak-pihak yang memegang kendali masa depan. Selain pemerintah dan organisasi profesi, yang tak kalah bermakna adalah fakultas kedokteran, pencetak dokter Indonesia yang kini mulai muncul dan menjamur di mana-mana.

Di tangan mereka dokter Indonesia dibentuk. Apakah mereka nanti memandang pasien secara holistik, sebagai manusia seutuhnya, atau semata melihat pasien yang hanya terjangkit kasus maag yang tak sembuh-sembuh.

Saya teringat dengan nasihat almarhum Prof Boedhi Darmojo, seorang guru besar yang bersahaja, saat mengutip kalimat bernas Henry B Adams. “A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.” Itulah mengapa seorang guru harus dihormati. Karena sentuhannya bersifat abadi.

*) M. Yusuf Suseno , dokter umum, saat ini tinggal di Surabaya

Catatan : paragraf terakhir tentang hakikat guru telah dipotong oleh redaksi JP. Mungkin karena pertimbangan ruang.  Padahal itu adalah bagian paling emosionil ..

Versi online ada di http://www.jawapos.com, klik : opini

Flu Babi Di Tengah Arus Mudik (Jawa Pos, 27/9/09)

Artikel Flu Babi

TENGAH malam, seorang lelaki muda tergolek di tempat tidur IRD RSUD dr Soetomo. “Mas barusan dari luar negeri?” Dia menggeleng. “Pernah bertemu penderita flu babi?” Dia menggeleng lagi.

Kening saya mengerut, tercenung membaca surat rujukan dari sebuah RS di pesisir utara Jawa Timur. Suspect H1N1. Terapi: Oseltamivir 2 x 1 tablet. “Saya cuma karyawan di toko komputer,” gumam lelaki itu di balik masker penutup mulut.

Kerutan saya ternyata tak beralasan. Sebab, kecurigaan dokter spesialis paru yang mengirim pasien tersebut cukup akurat. Selang tiga hari kemudian, hasil hapusan tenggorok juga positif.

Begitu luaskah penyebaran virus flu babi di masyarakat? Tanpa perlu riwayat kontak dengan penderita flu babi atau bepergian jauh pun, tiba-tiba virus H1N1 bisa hinggap?

“Ya!” jawab ahli paru RSUD dr Soetomo Surabaya dr J.F. Palilingan SpP(K). Menurut dia, virus H1N1 sudah menyebar luas di muka bumi dan beranak pinak di masyarakat.

Itulah esensi sebuah kondisi pandemi. Secara ekstrem, jika hari ini seorang manusia menderita gejala flu, tak ada yang bisa menjamin dia bebas dari H1N1. Kecuali, sudah dibuktikan dengan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) hapusan tenggorok.

Kalau begitu, bagaimana dengan jutaan manusia yang bergerak saat arus mudik? Tidakkah itu berarti mempercepat penyebaran virus H1N1 ke daerah yang semula dianggap “bersih” dari virus tersebut? Atau, haruskah kegiatan mudik ditiadakan.

“Tentu tidak,” kata dr Laksmi Wulandari SpP(K), ahli paru lain dari RSUD dr Soetomo, sembari tersenyum. Jawaban tersebut tentu melegakan para perantau yang rindu rumah, termasuk saya.

Sebab, meski virus itu mudah tersebar, angka kematian karena virus tersebut sangat rendah. Berkisar 0,4 persen. Itu sangat jauh bila dibandingkan dengan angka kematian karena flu burung yang mencapai 60-80 persen.

Sebuah artikel di New England Journal of Med edisi Juli 2009 menulis kalimat pendek yang bernas tentang kondisi pandemi influenza hari ini, “Sesungguhnya, dalam 91 tahun sejak 1918, kita selalu hidup di era pandemi.”

Dasar pernyataan itu, virus flu babi yang kini menyebar adalah keturunan virus flu yang merenggut nyawa 20 juta penduduk dunia pada 91 tahun lalu. Selama masa tidurnya, ia tak pernah sungguh-sungguh hilang. Syukurlah, meski penyebarannya makin mudah sekarang, ia makin jinak kepada induk semangnya. Tidak seperti kakek buyutnya dulu.

RSUD dr Soetomo Surabaya, sebagai RS rujukan, hingga saat ini mencatat 123 pasien yang pernah dirawat karena kecurigaan flu babi. Delapan puluh lima di antaranya positif dan emapt pasien meninggal. Secara nasional, pasien yang positif terjangkit H1N1 sebanyak 1.097 orang dengan sepuluh kasus kematian. Itu masih lebih sedikit daripada Thailand yang mencatat 14.976 kasus dengan 119 kematian atau Australia dengan 35.095 kasus dan 155 kematian.

Kondisi pandemik yang mau tak mau harus diterima itu menuntut perubahan paradigma terhadap penanganan H1N1. Terutama, bagi pakar kesehatan, pemegang kebijakan, dan klinisi. Apalagi, bagi negara dengan sumber daya terbatas seperti Indonesia.

Sebab, penyebaran H1N1 sudah begitu luas. Dengan begitu, manfaat yang didapat dari perawatan di rumah sakit dan konfirmasi positif tidaknya seseorang menderita flu babi menjadi kurang bermanfaat. Apalagi, sebagian besar kasus berhenti pada kondisi sakit ringan yang tak memerlukan perawatan di RS. Penting diketahui, biaya pemeriksaan PCR untuk memastikan diagnosis H1N1 hampir Rp 1 juta tiap kali pemeriksaan.

Karena itu, sesuai dengan pedoman dari WHO dan Departemen Kesehatan, institusi kesehatan kini dianjurkan untuk memperkuat triase atau pemilahan kasus. Mereka yang mengalami gejala ringan dapat beristirahat, lalu diisolasi di rumah. Pasien dengan gejala sedang hingga berat dirawat di rumah sakit sembari dibuktikan ada tidaknya infeksi H1N1.

Pertanyaan yang sering timbul, apa yang harus dilakukan masyarakat? Menurut Depkes RI, cara efektif untuk mencegah tertular H1N1 adalah menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar. Yakni, makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat cukup, dan sering mencuci tangan dengan sabun.

Bagaimana jika kita terserang gejala flu seperti batuk, pilek, nyeri tenggorok, dan demam ringan? Haruskah kita minta obat antivirus H1N1 kepada dokter? Tidak. Anjuran terbaik adalah istirahat dan mengisolasi diri di rumah, minum obat flu, serta melakukan etika batuk dan bersin yang baik agar tak menulari orang lain. Tutuplah mulut dan hidung saat batuk dan bersin. Pakailah masker penutup mulut. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun. Mereka yang mengalami gejala seperti itu termasuk kategori kasus ringan yang tidak memerlukan perawatan. Juga, tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan ada tidaknya infeksi H1N1.

Lain halnya jika gejala memburuk. Pemburukan itu sering disebabkan adanya koinfeksi dengan bakteri lain yang menyerang saat daya tahan tubuh terganggu. Yang rentan adalah bayi, usia tua, wanita hamil, penderita kencing manis, gangguan jantung, kelainan ginjal, kegemukan, dan penderita asma.

Gejala pemburukan yang paling sering terjadi adalah sesak napas dan demam tinggi tak kunjung turun. Beberapa pasien mengalami batuk darah, batuk dengan riak kental kekuningan, bahkan penurunan kesadaran mendadak, dan shock. Jika gejala itu muncul, segera ke fasilitas medis terdekat.

Flu babi mencatat angka kematian tinggi di Meksiko karena keterlambatan mencari pertolongan medis. Itu tidak boleh terjadi di Indonesia.

Selagi semangat Ramadan belum hilang, mari kita berdoa dan berpikir positif agar virus itu terus bermutasi menjadi virus yang lebih jinak. Bukankah Allah SWT berfirman, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

Ramadan yang Menyembuhkan (Jawa Pos, 23/8/09)

Ramadan

Hidup seorang muslim bergerak dari Ramadan ke Ramadan. Laiknya seorang pengembara, Ramadan adalah mata air, oasis berpohon rindang. Penuh khusyuk, seorang muslim berharap kesembuhan dari penyakit hati. Termasuk gejala mental disorder yang diam-diam terpelihara. Tumpukan stres, depresi, cemas, iri, prasangka, permusuhan, kemarahan, juga degradasi kecerdasan emosional dan spiritual saat menjalani hidup di luar bulan suci.

Namun, meski bertemu mata air Ramadan, menjadi “lebih baik” bukan berarti akan mudah. Sebuah penelitian pada 2000 yang dimuat majalah Psychosomatic Medicine menemukan, pada bulan Ramadan, pria muslim Maroko yang berpuasa lebih mudah tersinggung. Tingkat kecemasan juga meningkat. Tingkat iritabilitas (irritability) dan kecemasan tertinggi terjadi pada mereka yang memiliki kebiasaan tak sehat: merokok.

Mengapa? Secara medis, peningkatan rasa tak nyaman itu diduga disebabkan oleh perubahan pola tidur dan makan yang terjadi secara mendadak. Apalagi bagi perokok. Timbullah gejala withdrawal yang mengejutkan, membuat perjuangan untuk berhenti menjadi lebih berat.

Dari tataran ilmu hati, peningkatan kecemasan dan irritability pada penelitian tersebut mungkin terjadi karena sebagian besar di antara kita meletakkan diri pada kenyamanan syariat. Puasa hanya berhenti pada pantang makan, minum, dan seks. Puasa dibingkai pada pemindahan waktu.

Ah, betapa sengsaranya tubuh yang biasanya dimanja berbagai nikmat dunia. Padahal, jika kita berusaha menembus lebih jauh dengan mata hati, sebenarnya ada cahaya yang ditawarkan Ramadan.

Cahaya itulah yang kebanyakan terlewat. Tak kurang-kurang penduduk muslim di negeri ini berpuasa. Tak pernah susut minat manusia untuk bertarawih. Tak kurang gencar suara azan, pengajian, dan kuliah subuh dari pengeras suara masjid. Bertubi-tubi pula ceramah agama di televisi.

Namun, tiap hari, sepanjang tahun, ada saja berita tentang anggota dewan (sebagian dari parpol bernapas Islam) dan pejabat yang diperkarakan karena korupsi. Selalu ada juga kabar tentang kemiskinan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan.

Padahal, Rasulullah adalah manusia paling welas asih yang kita kenal. Lantas, ke mana semua berkas cahaya Ramadan bertahun-tahun itu berlalu? Mungkinkah kita termasuk dalam orang yang disebut Rasulullah Banyak orang yang berpuasa, hasilnya hanya lapar dan dahaga?

Tawaran berkas cahaya Ramadan yang kita lewatkan tak hanya berhenti pada jiwa seorang muslim. Sebenarnya, Ramadan juga menawarkan perbaikan pada keselarasan tubuh manusia. Sebuah penelitian di Turki menemukan terjadinya penurunan angka serangan jantung di bulan Ramadan. Salah satu hipotesisnya adalah puasa seharusnya memberikan efek penenang jiwa. Bukan efek cemas seperti penelitian sebelumnya.

Suatu kali pada Ramadan, Rasulullah menegur seorang perempuan yang tengah memaki hamba sahayanya. “Makanlah roti ini,” ujar Nabi ramah sembari menyodorkan sepotong roti. “Mana mungkin aku memakannya ya Rasul, padahal aku sedang berpuasa?” ucap perempuan itu. Dengan bijak Rasul berkata, “Mana mungkin engkau berpuasa, padahal kau mencaci maki hamba sahayamu?”

Jiwa seorang muslim yang berpuasa akan menjauhi amarah dan permusuhan. Ketenangan batiniah itu akan memengaruhi tubuh, meningkatkan kinerja saraf parasimpatik, dan mengurangi pelepasan kortisol atau zat stres dalam tubuh. Ujungnya adalah penurunan denyut nadi, tekanan darah, dan beban jantung. Titik akhirnya adalah penurunan risiko serangan jantung.

Risiko serangan jantung dan stroke, penyebab kematian terbanyak di negeri ini, juga bisa dikurangi dengan iktikaf di bulan Ramadan, satu metode meditasi spiritual yang ditawarkan Islam. Iktikaf, menurut Gus Mus, adalah cara yang diwariskan Nabi dan para mukmin untuk bertafakur, bersendiri dengan Allah.

Dalam lingkup kesehatan mental, meditasi spiritual terbukti lebih superior daripada meditasi sekuler dan teknik relaksasi yang tak menghubungkan manusia dengan Tuhan. Meditasi jenis ini akan mengurangi tingkat kecemasan, stres, dan depresi.

Penelitian pada manusia dan hewan menunjukkan, faktor psikologis berperan penting dalam peningkatan risiko dan perburukan penyakit jantung. Itu terlihat dari analisis atas 23 penelitian pada 1996. Pasien penyakit jantung yang mendapatkan terapi psikologis mengalami 41 persen penurunan risiko kematian jika dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Meski iktikaf tidak termasuk terapi psikologis yang diteliti, metode kontemplasi itu tak kalah manjur. Terutama jika kita tak lupa mengedepankan rasa syukur kepada Allah. Satu metode yang akan membuat hati tenteram dan berefek menenangkan.

Almarhum Nurcholis Majid dalam buku lama Pintu-Pintu Menuju Tuhan menyebut puasa sebagai satu-satunya ibadah yang bersifat rahasia dan karena itu menjadi “milik Tuhan” semata. Seorang muslim yang tengah berpuasa, meski tidak sedang beriktikaf di masjid, sebenarnya tengah menyadari sepenuhnya kehadiran Allah dalam hidupnya, di mana saja dan kapan saja.

Ingatan itu akan melahirkan kejujuran dalam berpuasa. Kejujuran dan dialog dengan Allah yang berlangsung sejak fajar hingga senja itu, jika diolah dengan baik, seharusnya bisa menciptakan rasa berserah diri, surrender, kepada Tuhan. Keyakinan penuh bahwa Allah Mahatahu yang terbaik untuk kita. Ibn Atha’illah dalam Al Hikam berkata, “Tiada suatu napas berembus darimu, kecuali di situ takdir Tuhan berlaku padamu.”

Itulah cahaya Ramadan yang harus kita raih. Yakni, tingkat “sadar” yang sepenuhnya terhadap kehadiran Allah dalam hidup, juga penyerahan diri dan keikhlasan kepada segala takdir-Nya. Cahaya itu akan selalu membuat kita tersenyum, memandang sisi positif hidup, dan akhirnya Ramadan benar-benar menyembuhkan jiwa dan tubuh kita. Insya Allah.

Prita, Cermin Komunikasi yang Minim (Jawa Pos 9/6/2009)

Prita di Jawa Pos

Kasus Prita melawan dokter dan Rumah Sakit (RS) Omni Internasional memancing reaksi banyak orang. Sambil menunggu proses sidang selanjutnya, apa yang bisa dipelajari dari kasus Prita? Apa yang bisa dilakukan agar hal-hal tak mengenakkan yang terjadi pada Prita selama di RS Omni tak terulang? Runtut jawaban itu penting. Sebab, sungguh tak nyaman menjadi pasien yang merasa dirugikan. Sudah sakit fisik, masih ditambah perasaan terabaikan, tereksploitasi, terkorbankan. Tumpukan kegelisahan melahirkan kalimat dalam e-mail Prita yang mencubit dan menusuk.

Bila Anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan titel internasional, karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan (suarapembaca.detik.com). Benarkah demikian?

***

Jawabannya bisa dirunut dari perkembangan kedokteran modern yang kemajuannya begitu menakjubkan. Pasien penyumbatan arteri koroner yang dua dasawarsa lalu harus berakhir di meja operasi kini bisa bernapas lega. Sebagian besar kelainan bisa diatasi dengan tindakan invasif minimal, yang bahkan bisa dilakukan sembari rawat jalan.

Namun, keajaiban itu tidaklah gratis. Metode pemeriksaan dan obat terbaru selalu lebih mahal karena biaya riset yang harus dibayar konsumen. Juga bahan dan teknologi terkini yang akhirnya dibebankan pada pengguna. Ini menimbulkan prasangka baru, seakan dunia medis saat ini lebih materialistis dan tak berpihak pada rakyat kecil.

Derasnya arus perubahan itu juga berpengaruh pada hubungan antara dokter dan pasien. Teknologi mempersingkat waktu interaksi antara dokter dan pasien karena terbantu oleh pemeriksaan penunjang yang memanjakan. Akhirnya, lebih banyak pasien yang bisa ditangani oleh seorang dokter, dengan risiko makin sedikit pula waktu yang bisa diberikan. Apalagi, penghargaan yang kadang tak sesuai dari rumah sakit sebagai industri membuat dokter terpaksa “berkelana” dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain.

Semua itu berpengaruh pada jalinan komunikasi antara dokter dan pasien. Apalagi, dunia tengah berubah. Hubungan dokter dan pasien, pada kondisi bukan darurat, tak lagi bisa berjalan dengan model paternalistik. Model lama di mana dokter dipercaya sepenuhnya dan segala keputusan diserahkan kepadanya layaknya orang tua.

Sebuah studi pada dua ribu pasien menunjukkan bahwa 78 persen pasien mengeluhkan tiga hal pokok. Yakni, tidak diberi waktu untuk mengungkap tuntas keluhan, tidak mendapat penjelasan yang mudah dimengerti, dan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan (J. Gen Intern Med: 2002).

Ketidakpuasan pada model paternalistik memunculkan model informatif. Pada kutub ini, tugas dokter adalah memberikan informasi secara akurat kepada pasien dan membiarkannya memilih. Aman memang, namun lebih kering, impersonal, dan tanpa keterlibatan emosi. Seorang dokter bekerja mirip seorang arsitek, di mana segala keputusan berada di tangan pemilik rumah.

Model terbaik di antara dua kutub ekstrem model paternalistik dan informatif adalah model deliberative. Dokter memberikan informasi seluasnya, namun tetap bersikap layaknya sahabat sang pemilik rumah, di mana dia berusaha berempati dan memberikan saran terbaik sesuai dengan kondisi pasien.

Sayang, model hubungan dokter pasien yang ideal itu tidak akan terjadi tanpa komunikasi yang baik. Pertanyaannya, sudahkah fakultas kedokteran di Indonesia menekankan pentingnya komunikasi pada para calon dokter? Sudahkah para calon dokter diberikan bekal yang cukup tentang teknik komunikasi yang baik dengan pasien?

Kenyataannya, mata kuliah tersebut lebih sering terabaikan -kalau toh ada, penyampaiannya tidak menarik. Sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa kedokteran memasuki kampus dengan idealisme tinggi, namun dalam dua tahun mulai tergerus. Pada tahun-tahun akhir, sikap paternalistik mulai terbangun, kemudian mereka lulus dengan pandangan lebih berorientasi pada penyakit daripada pasien (Med Educ: 2002).

***

Ada tiga fungsi utama dari komunikasi antara dokter dan pasien yang perlu diketahui. Yakni, menggali informasi, membangun dan menjaga hubungan kepercayaan, serta merencanakan langkah-langkah selanjutnya, termasuk edukasi. Pada kasus Prita, ada kegagalan fungsi kedua dan ketiga yang akhirnya menimbulkan kekecewaan. Melahirkan e-mail yang mencubit dan menusuk tersebut.

Kasus Prita juga mengandung pelajaran penting bagi para pasien di tanah air. Pertama, usahakan kita memiliki dokter keluarga yang mengenal dan mencatat dengan baik riwayat kesehatan kita. Langsung menuju rumah sakit untuk kasus bukan gawat darurat kurang bijak. Dokter UGD dan dokter spesialis rujukan tidak mengenal tubuh kita seperti dokter keluarga. Waktu mereka pun tak sebanyak dokter keluarga. Akibatnya, segala efek samping obat bisa saja datang tak terduga.

Kedua, usahakan mendapat informasi secara lengkap dari dokter yang merawat. Jika perlu, carilah second opinion. Ketiga, jangan membiarkan kita dirawat oleh dokter yang tidak kita percayai sejak awal. Sebab, hasilnya hanya akan merugikan dan melukai kedua belah pihak.

Bagaimana dengan para dokter? Kalimat Prita di awal tulisan seharusnya menjadi cermin yang mengetuk hati dan menggerakkan semangat perubahan. Namun, sampai saat ini saya tidak sependapat dengan kalimat, semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan. Sebab, semakin pintar dokter, seharusnya dia menjadi rendah hati, makin berempati kepada pasien-pasiennya, serta makin kaya dalam kemampuan berkomunikasi. Yakni, kekayaan yang akan menentramkan hati dokter dan pasiennya. (*)

dr M. Yusuf Suseno, tengah bertugas di RSUD Taman Husada Bontang, Kaltim

Susu Sapi dan Hari Bakti Dokter (Jawa Pos 24 Mei 09)

Susu Sapi di Jawa Pos

Sungguh menarik tulisan Pak Dahlan Iskan berjudul Susu Sapi Bukan untuk Manusia (JP, 15/5/09). Menggelitik dan mengundang kontroversi. Yang pasti, tulisan itu membuat sebagian pembaca membeli buku Prof Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme. Termasuk saya.

Pubmed, mesin pencari artikel ilmiah dari perpustakaan nasional Amerika, menghasilkan 40-an artikel ilmiah tulisan Prof Hiromi. Sebagian besar tulisan itu mengulas kolonoskopi, penyakit usus besar, dan masalah medis pencernaan lain.

Namun, tak satu pun artikel ilmiah beliau di Pubmed yang terkait susu dan daging sapi. Tak ada juga topik gizi lain. Artikel ilmiah yang menghubungkan jenis makanan dan kondisi pencernaan pasien pun tak ada.

Timbul pertanyaan, apakah pernyataan beliau tentang susu sapi itu betul-betul didasari data ilmiah yang telah teruji secara statistik? Atau itu semua berdasar pengalaman klinis dan asumsi semata?

Seorang petugas KPK dan koruptor bisa saja ditemukan sama-sama berada di padang golf. Tapi, apakah keberadaan petugas itu karena diundang koruptor, mengawasi koruptor, atau sekadar kebetulan berada di tempat yang sama? Atau, ada faktor lain? Bertemu caddy yang sama, misalnya.

Begitu pula halnya dengan susu. Hingga saat ini belum ada kata sepakat tentang manfaat dan bahaya susu sapi bagi manusia. Pihak yang pro, termasuk sebagian besar ahli gizi, menyebut berbagai penelitian yang positif. Subjek yang minum susu berisiko stroke dan serangan jantung lebih rendah, lebih jarang mengalami hipertensi, dan lebih terlindungi dari patah tulang pada usia tua.

Sebaliknya, pihak yang kontra menyebutkan hasil penelitian yang negatif. Antara lain, susu sapi dicurigai sebagai pencetus diabetes pada anak dan dewasa, sering terjadi reaksi intoleransi dan alergi, serta ada peningkatan risiko kanker prostat pada subjek yang banyak minum susu.

Namun, belum ada publikasi ilmiah yang menyatakan susu menyebabkan usus menjadi “jelek”. Buku Prof Hiromi, yang tidak bisa dikatakan artikel ilmiah murni karena banyak asumsi di dalamnya, adalah satu-satunya sumber pernyataan tersebut. Bisa saja itu benar, ada sebab akibat antara susu dan kondisi pencernaan manusia yang “jelek”. Tetapi, bisa saja kesimpulan tersebut berlebihan. Susu mungkin bermanfaat pada kondisi tertentu, mungkin juga tidak.

Jadi, berikan ASI kepada bayi Anda. Jangan paksa anak minum susu sapi jika dia tak suka. Gantilah sumber kalsium dari buah dan sayur. Namun, jika suka dan tak ada efek samping, biarkan dia minum susu sapi. Menurut saya, hukum susu sapi dari sudut pandang medis adalah boleh alias mubah.

Orang besar memang selalu punya ide dan pandangan berbeda. Tugas mereka menginspirasi dan membuat orang berpikir. Prof Hiromi dan Pak Dahlan melakukannya dengan baik. Salah satunya adalah kalimat Pak Dahlan tentang pandangan Prof Hiromi terhadap dunia kedokteran.

“Dokter melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.”

Kalimat terakhir itu sangat mencubit. Cubitan yang makin terasa karena 20 Mei lalu adalah Hari Bakti Dokter Indonesia. Cubitan yang membutuhkan perenungan.

Benarkah pendidikan dokter spesialis menghancurkan ilmu kedokteran? Bukankah sistem pendidikan dokter di Amerika termasuk salah satu yang terbaik di dunia? Kenyataannya, dunia medis Amerika kebanjiran dokter spesialis. Perbandingan dokter umum dan spesialis di Amerika 2 : 1. Itu memicu kritik.

Pendidikan kedokteran di Amerika dianggap kurang berhasil mendorong lulusannya mendalami etika, hambar dalam pemahaman manusiawi pada pasien penyakit terminal, dangkal nuansa spiritual dan agama, serta berlebihan dalam penggunaan teknologi. Padahal, ilmu dan teknologi tanpa jiwa dan empati tidak hanya tak efektif dan mahal, tapi juga berbahaya.

Bagaimana di Indonesia? Dengan perbandingan dokter umum dan spesialis 5 : 2, dunia medis Indonesia masih butuh banyak dokter spesialis. Namun, pendidikan dokter spesialis tidak seharusnya membuat penyelenggara pendidikan kedokteran melupakan esensi penting dokter keluarga. Bagaimanapun, tujuan utama kita adalah menyehatkan masyarakat, bukan sekadar menyembuhkan seseorang dari sakit. Itu hanya bisa dicapai dengan dokter keluarga yang kompeten, percaya diri, bergaji cukup, dan berwawasan luas.

Agar tidak terjebak pada lubang yang sama seperti Amerika, alangkah baiknya jika fakultas kedokteran di Indonesia senantiasa mendorong muridnya untuk mendekati pasien secara holistik. Seperti sepotong kalimat almarhum Prof Boedhi Darmojo, ahli penyakit dalam dan jantung yang bijak, saat memulai kuliah awal tahun. “Nak, medicine is science and art.”

Kemajuan ilmu dan teknologi harus diimbangi maturitas jiwa, soul, seorang dokter. Keputusan medis tidak bisa direduksi semata pada pertimbangan empiris. Seorang dokter seharusnya berusaha mengenal pasiennya sebagai seorang pribadi.

Seorang dokter dari Inggris, S.G. Jeffs, puluhan tahun lalu menulis hal mendasar yang seharusnya tidak dilupakan. ”… You have patients who are human beings with feelings and emotions who often have a greater dignity and self-respect than you possess yourself.” Mungkinkah hal itu terwujud dalam dunia modern yang makin asing dan sibuk? Semoga.

Mengurai Benang Kusut Aborsi(Jawa Pos 23/11/08)

Layaknya siklus tahunan, sekali lagi kasus aborsi ilegal mencuat. Sepanjang 2007, ada 2 dokter di Surabaya yang terjerat hukum karena melakukan aborsi. Kini, seorang dokter kembali berkubang dalam lubang yang sama.(JP 15/11/08). Mengapa hal ini terjadi?

Salah satu jawabnya adalah karena adanya permintaan yang tinggi dari masyarakat untuk tindakan aborsi. Berdasar data organisasi kesehatan dunia WHO pada 1998, sekitar dua juta perempuan di Indonesia melakukan aborsi setiap tahunnya. Jumlah aborsi tersebut adalah yang terbesar atau lebih 70 persen dari semua kasus di Asia Tenggara.(Kompas 28/8/08).

Di satu kesempatan lain, seorang Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN mengatakan, setiap jam terjadi 300 aborsi di Indonesia, dan 700 ribu di antaranya dilakukan pada perempuan berusia kurang dari 20 tahun. Ini berarti termasuk Lina(nama samaran), gadis Surabaya berusia 15 tahun yang bersama dr YA menjadi tersangka.

Selain Lina, siapa saja yang melakukan aborsi? Ternyata sebagian besar bukanlah teman-teman-teman Lina, remaja tanggung yang hamil di luar nikah. Sebuah penelitian di Surabaya menunjukkan bahwa 60 persen pelaku aborsi adalah ibu rumah tangga. Penelitian Indraswari dari Unpad juga menemukan bahwa 85 persen pelaku aborsi telah menikah. Penelitian yang diselenggarakan oleh Population Council pada tahun 1996-1997 di klinik swasta dan klinik pemerintah bahkan menunjukkan bahwa 98,8 persen klien aborsi adalah perempuan menikah dan telah punya 1-2 orang anak.

Selain hamil di luar nikah dan gagal KB, alasan lain melakukan aborsi adalah karena perkosaan dan janin yang menderita cacat berat. Intinya adalah saat seorang perempuan mengalami kehamilan yang tak diinginkan, dari sanalah aborsi tampak sebagai salah satu jalan keluar. Beberapa perempuan mencari bantuan medis, sedang yang lain memutuskan mencari pertolongan dari pihak tak berkompeten. Terjadilah komplikasi yang serius seperti perdarahan dan infeksi.

Prof Dr Gulardi SpOG mengatakan, angka kematian ibu (AKI) yang berkisar 300-an per 100.000 kelahiran hidup itu disusun oleh sekitar 11-13 persen kasus aborsi. Sumber lain malah menyatakan kalau aborsi sebenarnya menyumbang hingga 50 persen kematian ibu.

Apa yang terjadi di dunia nyata jelas berhadapan dengan hukum di Indonesia. Sumpah dokter dan kode etik melarang mereka melakukan aborsi, begitu pula dengan UU kesehatan no 23 tahun 1992. KUHP pasal 348 memberi ancaman pidana maksimal lima tahun untuk tindakan aborsi tanpa indikasi medis.

Tidak seperti hukum negara kita, agama islam sebenarnya masih memberi ruang untuk perbedaan pendapat. Sebagian ulama membolehkan aborsi yang disengaja sebelum umur kehamilan 120 hari, sedang sebagian membolehkan sebelum usia 40 hari. Yang lain mengharamkannya, kecuali atas indikasi menyelamatkan nyawa ibu. Pendapat terakhir inilah yang banyak dianut oleh ulama Indonesia.

Seorang ulama klasik, Ibnu Abidin al-Hanafi bahkan berpendapat bahwa tidak diperkenankan kepada siapapun untuk menggugurkan kandungannya meskipun khawatir akan membahayakan jiwa sang ibu. Menurut beliau, hal ini karena pada dasarnya kematian ibu tersebut hanyalah dugaan manusia semata.

Bagaimana dengan MUI? Saat ini fatwa MUI membolehkan tindakan aborsi jika kehamilan tersebut membahayakan ibu, dan juga pada kasus pemerkosaan dimana umur kehamilan belum mencapai 40 hari.(hidayatullah.com 9/11/06)

Lantas, apa yang kini harus dilakukan? Satu hal yang harus disadari bahwa kasus aborsi tidak bisa dipandang secara hitam putih. Apalagi dengan pola pikir bahwa mereka yang melakukan aborsi adalah makhluk berdosa, dan karenanya tak perlu diperhatikan, tak perlu dipikirkan nasibnya. Bila pola tersebut yang kita pakai, maka tak akan pernah ada jalan keluar. Kita laksana seorang pertapa di tengah riuhnya pasar, dan kita menutup mata terhadap dunia sekitar.

Beberapa tahun lalu, seorang ibu beranak 3 menemui saya karena gagal ber-KB, meminta agar kandungannya yang berumur 1 bulan digugurkan. Ia tampak sangat tertekan, saya tahu, perasaannya tengah terguncang. Saya membujuknya untuk membatalkan niat, berlindung di balik dalil agama, moralitas, sumpah dokter, KUHP, dan UU. “Tapi Dok, suami saya sekarang tidak bekerja, saya ini miskin. Siapa yang akan membelikan segala kebutuhan bayi ini?” Saya terdiam.

Lantas seperti sebagian besar manusia lain, saya tak tahu kemana ia pergi. Atau mungkin diam-diam, jauh di dalam hati, saya tak peduli. Mungkin ia minum jamu terlambat bulan, atau mencoba bertandang ke dukun untuk diurut perutnya, lantas dimasukkannya tangkai daun dan ramuan ke dalam rahim, yang membuatnya berdarah-darah dan mati. Atau ia pergi ke tempat praktek teman sejawat sejenis dr Edwin, dr Halim dan dr YA? Entahlah.

Menyelesaikan kasus aborsi ilegal seperti kasus Lina dan dr YA, adalah mengurai benang kusut pendidikan seks, dan masalah sosial ekonomi. Jika Anda termasuk dalam golongan yang anti legalisasi aborsi, maka Anda harus bekerja keras untuk mensejahterakan rakyat, membuat mereka lebih terdidik, menyebarluaskan alat kontrasepsi dengan angka kegagalan serendah mungkin, menekan tayangan televisi dan majalah porno, membuat remaja sekitar rumah sungguh-sungguh bertakwa, menyuluh pendidikan seksual pada para ABG, dan hal-hal lain yang mencegah masyarakat berpikir kalau aborsi adalah solusi.

Sekolahkanlah anak tetangga yang tidak mampu, bukalah lapangan pekerjaan, bagilah makanan pada tetangga, dan ajaklah anak-anak mereka berangkat ke tempat ibadah. Karena jika tidak, itu sama saja dengan membiarkan luka karena masalah aborsi itu terus membusuk. Dan kita melakukan kebijakan setengah hati, sambil tetap merasa bersih, berasa suci di tengah bau busuk itu.

Bagaimana jika hati kecil Anda menyetujui legalisasi aborsi dalam lingkup terbatas, oleh tenaga ahli dan dengan aturan yang ketat? Jika tidak bermental baja, mungkin diam lebih baik. Sebab jika Anda bersuara, maka bersiaplah untuk mendapat cemooh, dicap sekuler dan liberal, beriman kurang, bahkan tak bertakwa.

Apapun pilihan kita saat ini, mungkin tak seharusnya kita berpikir sempit dan merasa paling benar. Tak ada yang sungguh-sungguh hitam. Seperti juga tak ada yang sungguh-sungguh putih. Kyai Mustofa Bisri pernah menulis, kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar.

ditulis  di Apartemen Sawo Kecik,  Bontang, Kaltim

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 810 pengikut lainnya.