November Rain

Hari-hari di bulan November yang berhujan. Seakan abadi. Tapi tidak. Nothing last forever, even cold November rain…

When I look into your eyes
I can see a love restrained
But darlin’ when I hold you
Don’t you know I feel the same
‘Cause nothin’ lasts forever
And we both know hearts can change
And it’s hard to hold a candle
In the cold November rain
We’ve been through this such a long long time
Just tryin’ to kill the pain
But lovers always come and lovers always go
An no one’s really sure who’s lettin’ go today
Walking away
If we could take the time to lay it on the line
I could rest my head
Just knowin’ that you were mine
All mine
So if you want to love me
then darlin’ don’t refrain
Or I’ll just end up walkin’
In the cold November rain

Do you need some time…on your own
Do you need some time…all alone
Everybody needs some time…on their own
Don’t you know you need some time…all alone
I know it’s hard to keep an open heart
When even friends seem out to harm you
But if you could heal a broken heart
Wouldn’t time be out to charm you

Sometimes I need some time…on my
own Sometimes I need some time…all alone
Everybody needs some time…on their own
Don’t you know you need some time…all alone

And when your fears subside
And shadows still remain, ohhh yeahhh
I know that you can love me
When there’s no one left to blame
So never mind the darkness
We still can find a way
‘Cause nothin’ lasts forever
Even cold November rain

Don’t ya think that you need somebody
Don’t ya think that you need someone
Everybody needs somebody
You’re not the only one
You’re not the only one

Legends of The Fall

Entah kenapa, hari2 ini terngiang kalimat film Legends of The Fall, yang kutonton bertahun lalu. Adalah One Stab yang berkata tentang Tristan(Brad Pitt).

Some people hear their own inner voices with great clearness and they live by what they hear. Such people become crazy, but they become legends.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah, berapa banyak orang yang berani hidup mengikuti suara hatinya? Lantas, dimana aku berada?

Angin

Ya. Kalian benar. Itu yang ingin kukatakan pada guru2ku, juga hatiku. Anginlah yang mendorong hidupku hingga terantuk dari satu momentum ke momentum yang lain. Seakan tanpa arah.

Tapi tidak. Bukankah Kau sendiri yang bilang, tak ada kebetulan dalam hidup? Dan segala sesuatu terjadi karena alasan tertentu? Apa yang terjadi jika tak ada angin yang menciptakan riak hidup? Bukankah tanpanya, kita, para manusia layang-layang yang diulur tangan kehidupan, tak bisa naik tinggi dan lebih tinggi lagi?

Angin. Mulai hari ini aku takkan membencinya, memepertanyakannya. Aku akan menerimanya. Seperti juga aku menerimaMu. Lagipula, ia pula yang membuatku bertahan hidup. Menggerakkan layar perahu..

Hanya saja, malam ini, anginku, datanglah padaku. Aku ingin bertanya, berapa lama pelabuhanku itu tiba?

Memiliki Kehilangan

Hari2 ini aku mencoba melepas sesuatu dari dalam diri. Ketakutan akan kehilangan.
Kegelisahan dari rasa memiliki yang berlebihan.

Memiliki masa depan, masa lalu, karir, apapun..
Tuhan berkali-kali bicara padaku lewat berbagai pertanda, dan kemarin2 aku masih saja mengacuhkannya.
Kini, lewat berbagai pertemuan, Ia kembali mengingatkanku.

Bahkan sebenarnya sepuluh tahun, saat masih menjadi dokter umum, aku pernah menuliskannya..

kalau kau tak pernah benar-benar merasa memiliki, kau takkan kehilangan.
itu termasuk masa lalu, masa depan, tubuh gagahmu, karir, jiwa, apapun.
semua bukan milikmu. milik Sesuatu yang Tak Terperi.
dan kau tak pernah kehilangan apapun.

Lalu kemarin, aku melakukannya kembali.
Dan itu bukan berarti tak berharap dan tak berdoa, namun aku hanya melepaskan rasa memiliki yang tak sesuai porsinya..

Tuhanku, kau benar.

Segala milikMu, kembali padaMu..

Dieu, now, I’m surrender to You. Absolutely.
Jika masa depan itu memang milikku, ia akan datang padaku. Jika tidak, tak segala upaya bisa mendatangkannya..

*judul diambil dari lagu Letto.

Sick of This Life… (Dead Horse by Guns N’ Roses)

Sick of this life
Not that you’d care
I’m not the only one with
whom these feelings I share

Nobody understands, quite why we’re here
We’re searchin’ for answers
That never appear

Satu hari di masa lalu, aku pernah benar2 menyukai lagu ini.
Entah kenapa, tiba2 pagi ini aku bangun dengan rasa ingin mendengarnya kembali.

Maybe it’s because these weeks several thing happen, and sometimes it makes me sick of this life… I’m tired…

Dead Horse, Guns N Roses

Sick of this life
Not that you’d care
I’m not the only one with
whom these feelings I share

Nobody understands, quite why we’re here
We’re searchin’ for answers
That never appear

But maybe if I looked real hard I’d
I’d see your tryin’ too
To understand this life,
That we’re all goin’ through
(Then when she said she was gonna like
wreck my car…I didn’t know what to do)

Sometimes I feel like I’m beatin’ a dead horse
An I don’t know why you’d be bringin’ me down
I’d like to think that our love’s
worth a tad more
It may sound funny but you’d think by now
I’d be smilin’
I guess some things never change
Never change

I met an old cowboy
I saw the look in his eyes
Somethin’ tells me he’s been here before
‘Cause experience makes you wise
I was only a small child
When the thought first came to me
That I’m a son of a gun and the gun of a son
That brought back the devil in me

Sometimes I feel like I’m beatin’ a dead horse
An I don’t know why you’d be bringin’ me down
I’d like to think that our love’s
worth a tad more
It may sound funny but you’d think by now
I’d be smilin’
I guess some things never change
Never change

I ain’t quite what you’d call an old soul
Still wet behind the ears
I been around this track a couple o’ times
But now the dust is startin’ to clear
Oh yeah!!!

Sometimes I feel like I’m beatin’ a dead horse
An I don’t know why you’d be bringin’ me down
I’d like to think that our love’s
worth a tad more
It may sound funny but you’d think by now
I’d be smilin’
Ooh yeah, I’d be smilin’
No way I’d be smilin’
Ooh smilin’

Sick of this life
Not that you’d care
I’m not the only one
With whom these feelings I share

Here’s the link

For A Reason..

Tidak ada yang kebetulan.

Kalimat ini pertama kali dikatakan ‘guru’ saya beberapa tahun lalu. Dan hingga pagi ini saya meyakininya.
Karena itu, dibalik segala sesuatu yang terjadi, pasti ada beberapa alasan kenapa perjalanan hidup saya ‘dibelokkanNya’ ke Purwokerto. For more than one years..
Atau sebenarnya ini bukan pembelokan? :-)

Lantas jika di kemudian hari saya meninggalkan kota ini karena menemukan jalan lain untuk ditempuh, pastilah ada tujuan lain, yang diinginkan Tuhan dalam hidup.

Karena saya yakin bahwa setiap manusia itu unik dan memiliki tempatnya di alam semesta. Tersendiri. Tak tergantikan. So, there must be a reason..

Terima kasih pada mbak Riana, juga suara-suara ramai dalam hati yang telah menginspirasi tulisan ini, bahkan menjadi sumbernya..
Saya mohon ijin untuk membaginya pada yang lain.
Insya Allah bermanfaat.. Bukankah seperti yang kau bilang, kita semua terhubung mbak?

Lagu ini kupersembahkan pada semua orang, semua peristiwa, yang sengaja ataupun tidak telah menjadi ‘guru’ dalam hidup.

Terima kasih karena telah memupuk, menyiram, memotong daun2 layu saya (meski kadang itu sakit :-) ), dan juga menjadi matahari-matahari, bahkan menjelma mercusuar dan pelita..

Kristin Chenoweth, “For Good”

I’ve heard it said
That people come into our lives for a reason
Bringing something we must learn
And we are led
To those who help us most to grow
If we let them
And we help them in return
Well, I don’t know if I believe that’s true
But I know I’m who I am today
Because I knew you…

Like a comet pulled from orbit
As it passes a sun
Like a stream that meets a boulder
Halfway through the wood
Who can say if I’ve been changed for the better?
But because I knew you
I have been changed for good

It well may be
That we will never meet again
In this lifetime
So let me say before we part
So much of me
Is made of what I learned from you
You’ll be with me
Like a handprint on my heart
And now whatever way our stories end
I know you have re-written mine
By being my friend…

Like a ship blown from its mooring
By a wind off the sea
Like a seed dropped by a skybird
In a distant wood
Who can say if I’ve been changed for the better?
But because I knew you

Because I knew you
I have been changed for good
And just to clear the air
I ask forgiveness
For the things I’ve done you blame me for

But then, I guess we know
There’s blame to share
And none of it seems to matter anymore

Like a comet pulled from orbit
As it passes a sun
Like a stream that meets a boulder
Halfway through the wood

Like a ship blown from its mooring
By a wind off the sea
Like a seed dropped by a skybird
In a distant wood

Who can say if I’ve been
Changed for the better?
I do believe I have been
Changed for the better

And because I knew you…
Because I knew you…
I have been changed for good…

Akhir dan Awal Segala

Hari-hari Lebaran adalah masa ketika kita pulang. Secara lahiriah, wadag, maupun batiniah, hati.

Ya, sayapun pulang ke ceruk masa lalu di Semarang. Menelusuri kota lama, nyekar di Kendal, dan tak lupa, menata ulang tumpukan buku di rak yang berdebu. Di sanalah jejak2 itu tersimpan.

Dari lemari tak terurus itulah saya sadar, betapa lebih dari 20 tahun lalu (saat itu masih SMP) sebenarnya Allah telah menyiapkan beberapa hal untukku. Allah mendorongku membaca buku-buku Al Ghazali, juga menyentuh (meski secara superfisial) ajaran ilmu tasawuf dari berbagai sumber.

Surrender. Pasrah. Tawakkal. Salah satu kunci terbesar dalam hidup yang selama ini pelan terlupa.

Dari salah satu buku terbaca ulang doa Ibnu Taimiyah saat ia dipenjara dan didholimi. (yang ternyata adalah HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas).

Dan mulai hari ini, doa itu akan terus mengisi hidup. Menjadi salah satu titik awal dari segala sesuatu.

“Ya Allah hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku. ”

Kulanjutkan dengan doa versiku sendiri :

“Ya Allah kupasrahkan segala sesuatu dalam hidupku kepadaMu. Engkau Maha Mengetahui, sedang aku tak tahu apa-apa.. ”

Dari sanalah kuputuskan untuk mengakhiri segala kegelisahan, dan mengawali hidup baru. Yakni dengan percaya, bahwa Allah selalu bersama. Membimbing. Memberi yang terbaik. Mendorongku untuk pantang menyerah, namun di saat yang sama menyerahkan keputusan akhir padaNya. Dalam keluarga, karir, masa depan, apapun.

Hari ini pula aku berdoa bagi kesembuhan guru dan mentorku, dr Jatno Karjono SpJP di Surabaya, yang percaya bahwa aku akan tumbuh di manapun saya ditanam. Berbunga meski di tanah yang keras sekalipun.

Terima kasih atas segalanya Guru. Terima kasih karena telah menjadi sumber inspirasi. Ngaturaken sugeng riyadi..

Terakhir, akhirnya kalimat dalam film Fearless kembali terngiang.

Everything is arranged. Everything is wonderful..

Sepotong Senja

Entah kenapa pagi ini aku merasa sangat kesepian.

Kulihat rak buku, kubaca ulang kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, Sepotong Senja Untuk Pacarku, yang kubeli hampir 10 tahun lalu.

Dan tanpa kusadari ia membuatku makin terpuruk. Tenggelam dalam cahaya keemasannya, yang meski indah membuatku makin merasa sendiri. Membuatku teringat pada satu masa.

Mungkin juga karena hari2 ini aku harus memutuskan sesuatu. Memutuskan untuk diam atau melangkah. Dengan segala konsekuensinya. Padahal kadang segalanya tampak kabur. Sangat kabur..

Dieu, please help me..
Please….

Apapun yang terjadi, Tuhanku, tolong jangan jadikan aku dalam golongan orang2 yang menyerah.. Jadikan aku orang yang berdiri hingga batas akhir waktu…

Amin.


Sepotong Senja Untuk Pacarku ( by SGA)

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di kejauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
Baca selebihnya »

Menerobos Gelap dan Masih Tetap Tersenyum..

Hari2 ini, tak terasa menjelang setahun sudah aku di Purwokerto. Terus menggerus tanya, akankah aku tetap berada di sini tahun depan? Apa yang akan terjadi dengan orang2 yang kusayangi saat kutinggalkan mereka?

Yah, kini aku tengah mencoba Menerobos Gelap, dan berusaha Masih Tetap Tersenyum.

Terima kasih pada lagu2 dari Padi.
Yang seperti juga masa lalu, saat aku mengalami masa sulit di Ternate, kini kembali menemani.
Menguatkan aku.. (dari Ternyata Cinta)

Menerobos Gelap, by Padi

Ku ikrarkan hati untuk maju melangkah pergi
Menerobos dinding-dinding gelap ini
Tak kupertanyakan lagi
Seperti waktu itu, pernah kuterjebak,
Tanpa satu teman menemaniku…

Ketika aku tenggelam
Dalam kesunyian ini
Kucoba mendamaikan hatiku
Sepatutnya, aku mampu melaluinya
Menjejakkan kakiku
Meretaskan jiwa

(Ku) Tegaskan diriku untuk melewatkan hari
Dengan keyakinan hati yang kumiliki
Biar… Aku ikhlaskan peluhku
Basahi jiwaku, Sirami hatiku
Aku akan tetap terus melangkah..

Menerobos Gelap
Masih Tetap Tersenyum

Jika Tak Lagi Berharap

sebuah tulisan lama..

Jika tak lagi berharap.
Jika tak lagi meminta.
Jika tak lagi ingin.
Kutahu, kau tahu, kita takkan pernah kecewa.

Tapi, akankah itu kita sebut hidup yang sebenarnya?
Hidup bergairah, yang indah?
Entah.
Lantas berjalanlah kini.
Dalam kosong tak terperi.

Itu yang kita inginkan?
Tentu tidak.
Jadilah kupelihara harapan itu dalam hati.
Dalam diam yang dalam.
Kuambil resiko untuk jatuh dan terluka.
Karena jika tidak, aku takkan beranjak.

Sudahlah.
Ada hal-hal yang kadang tak bisa kuubah. Aku akan belajar menerimanya. :-)

Cerita Tentang Ayah.

Tiba-tiba menemukan cerita ini dari blog seseorang. Membuatku teringat pada satu peristiwa bertahun lalu, saat itu hampir tengah malam, dan seseorang terisak-isak membaca cerita ini. Sedang aku mendengarkannya dalam diam yang dalam.

Seperti biasa, seorang anak perempuan yang jauh dari keluarga akan mudah sekali kangen dengan Bundanya.. Lalu bagaimana dengan Ayah ??

Mungkin karena Bunda lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap harinya, tapi tahukah kamu jika Ayah-lah yang mengingatkan Bunda untuk menelponmu ?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Bunda yang lebih sering mengajak cerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan raut muka lelah Ayah selalu menanyakan pada Bunda tentang kabarmu dan apa yang kamu lakukan seharian ??

Pada saat kamu menangis merengek minta boneka atau mainan baru, Bunda menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, nanti beli, tapi tidak sekarang. ”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karenan tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi ?

Saat kamu sakit, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : ” Sudah dibilang ! Kamu jangan hujan2an ! Minum es !”.
Berbeda dengan Bunda yang memerhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.. Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan : “Tidak boleh !”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah ingin menjagamu ? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat luar biasa berharga..Setelah itu, kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetuk pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Bunda…
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu ??

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang tampang paling cool sedunia, dan sesekali menguping atau mengintip saat sedang kamu sedang mengobrol.. Sadarkah kamu, kalu hati Ayah sedang cemburu ??

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu memaksa untuk melanggar jam malamnya… Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir..

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang dokter atau insinyur.. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata-mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa.. Dah harus kuliah di kota lain.. Dan harus melepasmu di terminal stasiun atau bandara… Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu ?
Dan Ayah hanya bisa tersenyum sambil memberi nasehat ini itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati… Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Bunda dan memelukmu erat..
Yang Ayah lakukan hanya memeluk pundakmu atau memegang kepalamu, berkata ” Jaga dirimu baik-baik ya. ”
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT… kuat untuk pergi dan menjadi dewasa..

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.. Ayah juga berusaha keras mencari jalan agar anaknya merasa SAMA dengan teman-teman lainnya.

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana..
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Tiap hari aku melihat anak-anakku tumbuh makin besar, dan aku berjanji akan mengatakan rasa sayangku pada mereka. Setiap kali. Tak henti-henti.

Cinta, Lintang, Langit, Angin, Senja, Bumi, Surya, :) Bapak sayang kalian… Sungguh.

Really proud…

Hari ini, kedua bidadari kecilku, Cinta dan Lintang menyelesaikan puasa penuh mereka. Hingga adzan magrib.

Sebenarnya Cinta sudah memulai puasa Ramadhan sehari penuh tahun lalu, namun tetap saja aku bangga padanya.
Seingatku, saat aku kelas 4 SD dan belum genap 9 tahun, sangat jarang aku dengan sadar bertahan hingga magrib.

Di saat libur puasa, aku lebih senang bertelanjang kaki mengejar kereta tebu yang bergerak pelan, melolos batangnya (mencuri sih sebenarnya :) ), lantas lari saat pengawas memakiku. Kemudian diam-diam, bersama Din, teman sepermainanku yang pernah jadi TKI di Malaysia, menggigiti kulit dan memamah batangnya yang manis di tengah sawah berlatang senja..

Apalagi saat aku seumur Lintang, yang kini baru masuk kelas 1 SD dan belum pula 7 tahun. Di usia semuda itu, ia dengan sadar menahan lapar dan haus yang tentu saja sangat menguji. Sore kemarin aku pulang dari RS dan memeluknya. Ia baru saja bangun tidur saat kutanya, “Lapar nduk?” Ia menggeleng lemah. Lintang diam-diam telah memiliki kebijakan untuk tidak mengulang pikiran “lapar” dalam kepalanya, agar rasa lapar itu bisa ditaklukkannya.

Dalam banyak hal, mereka jauh lebih baik dibanding aku. Cinta telah pula menyelesaikan berbagai novel. Bahkan yang terakhir, Hafalan Surat Delisa karya Tere Liye, sebuah buku yang diberikan mahasiswa FK Unsoed untukku, dihabiskannya hanya dalam 2 hari. Dua hari yang berderai air mata..

Really proud of you girls..

Terima kasih ya Allah. Begitu banyak nikmatmu yang kulupakan…

Aku Ingin

Aku Ingin, oleh Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

Beberapa tahun yang lalu, seorang sahabat, seorang ibu dari lelaki kecil bernama Elan, pernah mengirimkan album ini padaku. Ia, yang tak pernah bertemu denganku secara langsung, mengirimkannya begitu saja. Tanpa pretensi apapun. Tanpa maksud apapun. Selain memberi. What a great teacher..

Sebelumnya telah pula dikirim buku-buku yang menurutnya patut kubaca. Buku-buku yang menurutnya akan menginspirasi. Dan tumbuhlah aku, hingga hari ini. Tumbuh cukup besar dan tinggi, hingga bisa pula berbagi.

Terima kasih kepada sahabat lamaku, dimanapun kau berada kini.
Terima kasih pada Pak Sapardi yang membiarkan sajaknya merasuki diri.

Terima kasih kepada Tuhan dan alam semestanya yang telah membiarkanku hidup, membiarkanku belajar, mencintai, dan berbagi. Lantas tumbuh dan belajar menjadi daun. Daun yang kuharap tetap menyuburkan tanah saat ia layu, gugur dan mati. I wish I could be that leaves..

Maafkan aku Tuhan, karena banyak yang belum bisa kulakukan. Terima kasih.

Aku ingin.

Hujan di Bandara Kota

Basah. Itu kesanku buat hari ini. Hatiku terendam banjir kenangan. Sedang di luar hujan terus turun. Lapangan terbang di Bandara Kota tak kelihatan lagi. Hujan dan angin berpilin di ruang kosong luar. Seseorang berkata di belakangku, ada kemungkinan besar pesawat ke Los Angeles ditunda.

***

Pun juga lima tahun lalu hujan tak selebat ini waktu Tante Nik turun dari pesawat. Kata ayahku, ia datang dari Amerika. Kulihat dari tempat tunggu gaunnya berkibar diterpa angin. Wajahnya cantik. Tubuhnya termasuk tinggi untuk kebanyakan perempuan, hampir menyamai ayahku. Ibuku yang tingginya pas-pasan jadi terlihat lebih pendek lagi. Setelah berpelukan sebentar dengan ayah dan ibu, ia memandang wajahku dan tiba-tiba aku berada dalam pelukannya.

“Hanif sudah besar ya? Sudah kelas berapa?” Ia bertanya sambil menciumi pipiku. Aku diam saja. Aku masih terlalu muda untuk bisa segera berakrab-akrab dengan orang asing seperti orang-orang dewasa. Diambilnya sebuah bungkusan dari dalam tas, dan tangannya terulur padaku. Bungkusnya menarik. Aku pingin segera membukanya. Ibu melirikku tajam.

Baca selebihnya »

Blues

Kurasa, setiap manusia kadang melarikan diri dari sesuatu.

Dan sesuatu itu bisa saja pekerjaan yang menumpuk, rasa sakit fisik, nyeri relasi antar manusia, suami pencemburu, tetangga yang pemarah, dosen yang tak adil, perkawinan yang entah kenapa, kekasih yang tengah PMS, hutang menumpuk, pembunuh bayaran, penggemar rahasia yang menyebalkan, atau kesedihan karena kondisi pasien yang berprognosis buruk.

Begitu juga saya. Apapun alasannya, malam ini saya melarikan diri ke sebuah kafe, mendengarkan musik blues.

Di sana, pemain gitar sekaligus penyanyinya, selalu berhasil membuat saya terpana. Terutama jika ia memainkan lagu-lagu penuh rasa menyayat, yang membuat hati saya tertekuk-tekuk. Ia memainkan gitarnya dengan penuh penghayatan. Dengan ‘soul’!
Ah, kalau saja saya ini perempuan, saya pasti jatuh cinta padanya.

Karena mau tak mau ia membuat saya berkaca pada hidup yang saya jalani. Benarkah saya telah mengisi hidup yang saya jalani dengan ‘soul’ pula?

Bekerja dengan cinta yang berlimpah, seakan hidup kita sungguh bertumpu padanya? Bangun pagi hari, dan tak sabar melakukannya lagi, dan lagi, dan lagi? Seperti seorang pemuda tanggung yang tak sabar berangkat sekolah lantaran tahu gadis pujaannya akan lewat di depan kelas?

Kurasa, tiap diri kita kadang melarikan diri dari sesuatu. Noktah masa lalu yang hendak dihapus, bayangan masa depan yang tak jelas, atau masa kini yang belum sepenuhnya dinikmati, dihayati.

Pertanyaannya adalah, kemana?

Mendengarkan dan menonton musik blues, bisa menjadi alternatif. Sungguh. Tapi tentu saja itu tergantung selera. Anda bisa saja melarikan diri dengan cara menonton film korea, bersepeda di tengah malam, bungee jumping dari pesawat terbang, atau sekadar tidur menyehatkan jantung dan hati.

Hidup memang kadang tak nyaman. Contohnya adalah bagi manusia yang harus menanggung nyawa sekian banyak orang, menemui 100 klien sehari, dan dituntut untuk berbagi empati terus menerus.

Sayangnya, musik blues cuma ada di Purwokerto tiap hari Rabu.

Tapi syukurlah, saya punya Langit, pemijat nomor satu di dunia. Bersamanya saya melarikan diri. Pergi ke rumahnya, di langit ketujuh…

Terima kasih ya nak.. Satu hari, saat banyak orang memilih menjauh, kuharap kau masih bersedia bersama. Then we’ll fight the blues..

Shangri La

Hari ini, untuk keempat kalinya aku menginap di Shangri La.

Bertahun lalu, saat memulai sekolah spesialis, ASMIHA tahun 2005 diadakan di hotel Shangri La Surabaya, sebuah hotel bintang lima yang saat itu tak terbayangkan mahalnya. Tentu saja kamar itu tidak atas namaku, namun kamar ‘sisa’ dari seorang senior yang tak bisa datang.

Hal yang sama terjadi pada 2007. Itu kali kedua aku menginap di Shangri La Surabaya, dan atas kebaikan Prof Djoko Sumantri. Masih teringat momen saat gadis2 kecilku berenang gembira di kolamnya. Sedang aku masih saja merasa minder, karena tahu aku takkan bisa membayarnya dengan uangku sendiri.

Lantas tahun 2010, di Shangri La Makati Manila, sebagai seorang resident aku tidur di sendiri di bednya yang besar. Kamar itu memang atas namaku, tapi tetap saja karena kebaikan guruku yang lain, Prof Rochmad Romdhoni, yang telah mencarikan sponsor World Conggress of Echocardiography untukku.

Hari2 ini sedikit berbeda. Aku tidur di kamar Shangri La, atas tanggung jawab yang dibebankan padaku. Ada rasa puas dan bangga, karena setidaknya, ini merupakan buah dari kerja kerasku.

Namun rasa bangga itu pupus tiba-tiba, saat aku mendengar seorang kakak kelas, ia pernah menjadi chief resident dan membimbingku, mengalami kecelakaan yang sangat fatal bersama keluarganya. Ia, yang dulu pernah mengalami nasib sama denganku saat sekolah, “tersia-sia” oleh situasi, terbaring tak berdaya. Bahkan sang istri kini tengah dibantu ventilator, dengan kesadaran yang sangat menurun. Putra mereka tiga. Sama denganku. Tiap kali mengingatnya, ada rasa pilu menghunjami hati, membasahi mata.

Mungkin karena kulihat dirinya dalam diriku. Baru beberapa tahun lulus spesialis, tengah merintis karir, tengah bergairah merancang masa depan. Dan kini tiba-tiba harus menjalani masa-masa terberat dalam hidup.

Ah, betapa hidup sangatlah rapuh. Kematian mengintai tiap saat. Hari ini, tulisan ini bisa saja menjadi tulisan terakhirku.

Lantas, apa yang akan kulakukan seandainya hari ini adalah hari terakhirku?

Kurasa aku takkan melakukan banyak hal. Cuma hal-hal terpenting saja dalam hidup. Juga mengatakan beberapa kalimat pada mereka yang kusayangi, lantas meminta maaf.

Kemudian aku ingin tidur di Shangri La yang sebenarnya. Sebuah tempat serupa surga, yang menurut beberapa tradisi Buddhis juga disebut Shambhala.

Sebuah tempat dimana yang ada hanyalah keheningan, kedamaian, kebahagiaan, kasih sayang…

Bidadari-bidadari kecilku…

Ada hal2 yang tak bisa ditukar dengan uang. Salah satu yang terbaik adalah senyum para bidadari berbaju biru..

Juga tawa lepas mereka saat ombak membasahi tubuh…

Terima kasih Tuhan, karena sudah Kau turunkan mereka ke bumi ini untukku..

Malioboro, Sepercik Kenangan


Ada hal-hal yang sulit dilupakan. Termasuk Malioboro.

Satu hari bertahun lalu, aku pernah datang ke sini. Dalam subuh yang dingin, berangkat dari Semarang bersama almarhum Agung Priyanto, sahabatku.

Motor yang kami kendarai seakan melayang karena Agung selalu berhasil meyakinkanku, dan tiba-tiba saja mendarat di halaman parkir hotel Mutiara. Di sana ada simbah penjual gudeg, tempatnya persis di mulut gang samping kanan hotel Mutiara lama.

Kami berdua duduk, memesan gudeg dan tertawa. Hidup terasa abadi meski nyatanya tidak. Lantas motor menggerung lagi, meluncur ke Parangtritis.

Sejak hari itu, banyak hal terjadi. Kami berdua pernah mendaki Sindoro, Lawu, Ungaran, menaklukkan angkuh Semeru, dan terakhir, bertiga bersama almarhum Gea, menikmati senja di di Merapi.

Sayangnya, aku bertahan hidup, sedang kedua sahabatku tidak. Mereka, Agung dan Gea, meninggal dalam kecelakaan motor tragis di waktu yang berbeda. Bertahun lalu. Aku sendiri beberapa kali mengalaminya. Dua di antaranya hampir merenggut nyawaku. Satu hal yang kadang membuatku bertanya, apakah ini ada hubungannya dengan pendakian kami bertiga di Merapi? Entahlah. Selalu ada desir itu, rahasia tak terjawab tiap kali melihat foto kami di gelap lereng Merapi.

Namun satu hal yang pasti, saat aku bekerja sebagai dokter umum di Magelang, kadang aku ke Jogja menemui ibu penjual gudeg sepuh itu, memintanya bercerita. Entah apa. Itulah caraku memanggil kenangan.

Begitu pula saat dulu aku masih di Surabaya. Malioboro dengan simbah penjual gudeg samping kanan hotel Mutiara senantiasa kucari.

Dan hari ini, aku kembali.

Di satu pagi yang dingin, meminta sepiring gudeg. Tapi simbah tua itu tak lagi berjualan, ia tinggal saja di rumah. Putrinya, yang di mataku mirip dengannya, menggantikan tangan renta itu.

Dan hari ini pula, aku merasa sendiri. Entah kenapa. Dan itu terjadi di tengah keramaian jalan Malioboro.

Satu hal yang kutahu, pastilah ada alasan mengapa Tuhan membiarkanku hidup lebih lama. Mungkin agar aku bisa memberikan sesuatu buat banyak orang. Melalui apapun yang kupunya. Meski itu cuma senyum dan kata-kata yang sederhana.

Juga karena Tuhan ingin aku belajar membahagiakan mereka yang kusayangi. Menyisihkan egoku sendiri, memahami dan menerima apa adanya. Masa lalu, kini dan esok. Lantas mendorong mereka agar mencapai titik tertinggi dalam hidup.

Dan hari-hari ini, di Purwokerto, Tuhan tengah menyuruhku menolong banyak orang. Meski kadang harus tenggelam dalam keringat dan rasa sepi.

Semua itu membuatku berpikir, bahwa apapun yang kudapat hari ini dan esok, entah itu kesedihan dan kegembiraan, itu jauuh lebih baik. Setidaknya aku masih bisa bernapas dan menyelesaikan tulisan ini.

Hidup dengan segala isinya adalah anugrah. Kuharap, sudut Malioboro ini akan selalu mengingatkanku.

ditulis di tepi Malioboro, satu senja bulan Juni 2011

Pasir Lepas

Subuh ini, saat aku melihat ketiga gadis kecilku tidur, kurasakan waktu yang berlalu begitu cepat.

Cinta sudah hampir 9 tahun kini. Ia yang dulu begitu mungil dalam pelukanku, telah menjadi seorang perempuan kecil yang tiap hari membaca buku. Begitu juga Lintang, gadis lincahku. Sebentar lagi ia masuk SD, dan meminta sepatu baru. “Kalau bisa berwarna hijau ya Pak.” Ah, begitu sering kita membelikan sepatu untuk anak kita. Tidakkah mereka tumbuh terlalu cepat?

Sedang Langit kecilku yang cantik, tengah tahun ini akan memulai TK-nya. Ia sangat lucu dan perhatian. Kadang dipegangnya bahuku lantas dipijatnya pelan. Ia tahu kalau ayahnya lelah sepulang kantor. Ketika aku berbisik di telinganya, “I love you.” Ia akan menjawab,”I love you too..”, meski matanya tetap asyik pada buku bergambar itu.

Aku tahu kalau aku takkan selamanya bisa memeluk mereka. Satu hari ketiganya pasti beranjak besar, lantas banyak hal akan berubah. Tiba-tiba saja mereka telah terbang. Lepas dari sarang. Bisa saja ke Harvard, Ubud, atau Johannesburg. Bukankah kita semua mesti menyelesaikan sesuatu?

Pesawat waktu yang kutumpangi berlalu begitu cepat. Aku tak ingin berkedip. Aku ingin menghirup hidup yang kujalani dalam-dalam.

Waktu yang kau pegang erat akan jatuh lepas, laksana pasir kering pantai yang kau genggam. Tak terasa.

So, hiduplah dengan kesadaran penuh akan fananya waktu. Peluk erat mereka yang kau cintai. Anak-anak, istri, kekasih, ayah ibu, juga sahabat sejatimu. Sebelum pasir itu lepas dari tanganmu.

Lantas berikan yang terbaik. Berjalanlah sejauh mungkin. Panjatlah tebing itu, setinggi yang kau bisa.

Namun, tetaplah nikmati hidup. Pilihlah rasa bahagia. Alih-alih membiarkan dirimu terpuruk dalam hal negatif.

Setidaknya, pelan-pelan, rasakan sungguh pasir waktu itu lepas, menghilang dari tanganmu. Namun tetap diiringi senyummu..

Rengeng-Rengeng

Malam pekat sekali. Aku berjalan terantuk-antuk batu sepanjang gang. Sol sepatu yang tipis tak kuat lagi menahan tubuh dari terjangan batu-batu.

Aku tak begitu suka lewat gang ini. Terlalu gelap, berbatu dan becek di musim hujan. Penghuninya pun tak ramah. Tapi gang ini jadi jalan pintas ke rumah kosku. Meskipun hampir tiap malam kulalui, tapi tak banyak yang bisa diperhatikan. Dan memang tak ada yang istimewa. Semuanya kelihatan sama. Miskin. Kumuh. Kecua¬li sebuah rumah. Nomor tiga dari mulut gang.

Rumah itu tak beda dengan yang lain. Kecil. Sederhana saja. Lampu depannya cukup lima watt, tapi di remang itu dinding pa¬pannya terlihat putih bersih. Halaman yang terbatas luasnya senantiasa rapi. Ada beberapa kuncup mawar yang tumbuh merambati pagar bambu. Selera aneh di tengah-tengah gang kumuh. Satu hal yang sungguh-sungguh membuatku tertarik adalah rengeng-rengeng suara perempuan.

Rengeng-rengeng itu begitu memilukan bersemu tangis. Nadanya membentuk tembang jawa. Entah apa. Luruh bersama angin, mencipta¬kan malam yang sungguh kelam sepanjang perjalanan melintasi gang. Bulu kudukku berdiri saat kulewati rumah itu. Tidurku terganggu mimpi-mimpi. Seakan eyang kakung hidup kembali dan menembang untukku.

Ah, rengeng-rengeng perempuan itu betul-betul mengiris dadaku. Tercipta pisau daging yang besar, dan dengan alun nada-nada tembangnya diirisnya hatiku, jantungku, paru-paruku, tulang sumsumku. Diperasnya darahku. Ditampung dalam ember buat menyiram mawar-mawarnya. Ingin sekali aku menyuruhnya berhenti nembang. Berhenti rengeng-rengeng. Berhenti membunuhku setiap kali aku lewat.

Berdiri diam di depan pagar rumahnya, rengeng-rengeng semakin merasuk dada. Suaranya pelan, halus. Angin malam menyusup di sela baju. Dingin. Kupegang pintu pagar. Batinku berperang melawan otakku. Apa kau sudah gila, kata otakku nyinyir. Malam-malam bertamu di rumah orang. Batinku diam, keras kepala. Mereka bertengkar, berkelahi, saling mencakar sementara tanganku masih bertahan di pagar rumah itu.

Kudorong pintu pagar ke dalam. Tak terkunci. Suaranya agak kasar. Tapi tak membuat rengeng-rengeng berhenti. Hujan yang turun tadi sore sedikit membuat becek halaman. Kuketuk pintu pelan-pelan. Akankah dibuka? Seorang tamu malam-malam dan tak dikenal. Mungkin aku memang sudah agak kurang waras. Kehilangan common sense.
Baca selebihnya »

Surat dari masa lalu..

“kalau kau tak pernah merasa memiliki, kau takkan kehilangan.”
itu termasuk masa lalu, masa depan, tubuh gagahmu, karir, jiwa, apapun.
semua bukan milikmu. milik Sesuatu yang Tak Terperi.
dan kau tak pernah kehilangan apapun.


Ketika kita menua, itu tak berarti kita menjadi dewasa, lantas bijak bestari. Ini terbukti. Sebenarnya aku telah menulis tulisan ini 10 tahun lalu saat masih bertugas di Grabag, Kabupaten Magelang.

Sayangnya butuh 10 tahun untuk membacanya kembali. Hah, betapa banyak hal yang kita tulis dan katakan tapi tak pernah benar2 kita hayati.

Tapi bagaimanapun, terima kasih pada subuh dingin yang telah membuatku membuka tulisan lama. Terima kasih pada diriku di masa lalu yang menyiapkan paragraf itu untuk diriku di masa kini.

Terima kasih Tuhan, pemilik segala sesuatu…

Akhirnya Aku Memilih (part 2)..


“Kalau nggak kena kanker, saya mungkin nggak akan pernah membebaskan diri dari pagar-pagar yang saya rasakan membelenggu itu.” Ya, lelaki itu mengumpamakan kanker sebagai ‘hadiah’ Tuhan yang membuat ia lebih berani merangkul kehidupan.

Paragraf yang menyentuh. Itu adalah kalimat Hanif Arinto, 36 th, seorang pasien kanker usus besar yang terpasang stoma. (Kompas Minggu 12/6/11, Hidup Berlanjut dengan “Stoma”).

Hanif yang dulu senang fotogragi tapi tak berani memotret, kini berubah menjadi seseorang yang tak pernah melepas tiap momen hidup dari kamera. Hanif yang dulu sangat sibuk namun tak menikmati hidup, kini belajar bermain ski dan menjadi sukarelawan untuk Yayasan Kanker Indonesia. Hanif hari ini adalah Hanif yang berani menjalani hidup sepenuhnya, meski tahu sel kanker belum ia kalahkan.

Hidup Hanif berubah setelah kanker menyerangnya. Tapi, sungguhkah kita harus menunggu hingga kanker, penyakit jantung, atau kondisi kritis lain menyerang tubuh baru kita “berani merangkul kehidupan”?

Kenapa kita tidak merangkul kehidupan kita mulai kini? Kenapa kita tak melakukan hal-hal yang sungguh berarti? Kenapa kita melakukan hal-hal yang remeh hanya karena desakan ‘common sense’ dan tekanan tata sosial masyarakat?

Coba letakkan perspektif hidup kita pada posisi Hanif. Apa yang akan kita pilih jika kita tahu bahwa satu hari, dalam waktu dekat, kematian akan datang menghampiri? Anggap saja, enam atau dua belas bulan lagi…
Lagipula, adakah yang menjamin bahwa esok hari kita masih bisa menyaksikan matahari terbit? Tak siapapun.

Lantas, kenapa kita tak : membagi kasih sayang, menyatakan isi hati, meminta maaf, memaafkan, memeluk pasangan hidup, menelpon teman lama, atau sekadar menyapa seseorang padahal hati kita menginginkannya?

Kenapa kita tak merangkul kehidupan, tapi alih-alih melaluinya seperti seorang pejalan tidur?

Ini adalah kritik saya pada diri sendiri. Terima kasih pada alam semesta yang terus mengingatkan tentang arti penting sebuah pilihan hidup. Seperti seseorang bilang (mbak Riana, voicesnoises), “Tak ada yang salah dalam pilihan2 itu. Asalkan ia datang dari hatimu.”

Tulisan ini sekaligus menandai hari berkabung saya atas meninggalnya, Prof. Budi Susetyo Juwono, SpPD, SpJP. Satu-satunya guru, yang saat pendidikan spesialis pernah mengajak saya bicara tentang perlunya mendengar suara hati. Nurani.
Terima kasih Prof. Selamat jalan. Air mata dan doa kami menghantarmu menuju Sumber Rindumu..

Purwokerto, minggu sore, 12/6/11

Akhirnya Aku Memilih.


Setelah beberapa bulan tinggal di kota ini, akhirnya aku memilih. Dan itu karena Cinta, gadis kecilku yang pertama jatuh sakit. Demam.

Ia, yang secara emosionil sangat dekat dan mirip denganku adalah salah satu penghubungku dengan masa depan. Entah kenapa. Dan itu telah terbukti.

Tiap kali ayahnya menghadapi ujian hidup, tiap kali pula ia sakit. Dan sakitnya itu adalah pertanda, adalah peringatan untuk ayahnya, untuk pasrah dan meyakini bahwa segala sesuatu telah diatur, dan tidak ada gunanya merengek dan menangis. Seakan ia berkata padaku, “Pak, lakukanlah apa yang kau bisa lalu biarkan Allah yang memutuskan. Karena Allah memberi yang terbaik. Selalu.”

Dulu, persis satu hari sebelum aku ujian masuk spesialis, aku sangat gelisah. Namun Cinta tiba-tiba demam tinggi. Tanpa ba-bi-bu. Padahal waktu kami berangkat ke Surabaya ia sangat sehat. Tengah malam itu ia seakan ikut prihatin dengan suasana hati dan ujian hidup ayahnya. Tak lagi sempat belajar, aku malah begadang menjaga gadis kecilku itu. Namun, alhamdulillah aku tetap lulus. Padahal aku bukan alumni Surabaya, jadi tak kenal pada siapapun dokter senior yang mengujiku hari itu.

Kini, ujian hidup yang kuhadapi adalah tentang keberadaanku di kota ini. Sungguhkah hidupku akan lebih bermakna jika aku menetap di sini? Haruskah aku pergi?

Akhirnya, aku melakukan usaha terakhirku. Surat itu kulepaskan dan kuserahkan. Terserah apakah mereka akan memperjuangkan atau tidak. Jika Allah menghendaki, maka akan dilancarkanlah segala urusanku di kota ini. Rezeki, karir, kesehatan, kebahagiaan.
Sedang jika tidak, maka akan dialihkannya jalan hidupku ke tempat lain. Dimana Allah telah pula menyediakan segala sesuatunya.

Segala sesuatu adalah milikMu. Aku cuma ‘nunut’ saja.

Ah, kurasa sudah saatnya aku melakukan hal-hal yang benar. Kini, segalanya kukembalikan padaMu. Enam bulan hidup adalah waktu yang singkat. Bukankah Kau bilang aku harus bersiap, bergegas? RinduMu sungguh tak bisa kutebak…

Apa Enam Hal yang Akan Kulakukan Jika Hidupku Tinggal 6 Bulan Lagi?

1. Mengikuti hati nurani. Tersenyum dan ramah pada siapapun. Rendah hati dan tak enggan berbagi kebahagiaan. Bersikap zuhud. Tidak senang saat mendapat dunia, tak sedih saat ditinggalkan dunia, tak sibuk oleh dunia hingga lupa.

2. Membahagiakan keluarga kecilku. Mempersiapkan hati dan mendidik ketiga gadisku agar menjadi perempuan tangguh yang solehah. Agar tegar menghadapi arus deras kehidupan.

3. Berbakti kepada Ibu dan Bapak. Membahagiakan mereka. Membuat mereka bangga karena telah membesarkanku.

4. Menjadi dokter terbaik yang aku bisa. Terus belajar, terus menempa diri dan hati, hingga bisa menolong sebanyak mungkin manusia. Merawat pasien2ku secara holistik. Sebagai manusia seutuhnya. Menyentuh hati, bahkan kalau bisa, membuat mereka lebih bahagia.

5. Menginspirasi sesama. Membuat mereka kembali percaya pada impian. Berbagi semangat hidup dan ilmu lewat lisanku, artikel dan buku yang kutulis, apapun yang kupunya. Membuat hidup mereka jadi lebih bermakna.

6. Hmm. Biar Allah dan aku saja yang tahu..

Pengembara

Malam ini, tiba2 aku bangun, dan aku disadarkan pada ketidakabadian dan kefanaanku sendiri. Ah, betapa selama ini aku sering dengan sengaja melupakannya.

Padahal, sudah seharusnya tiap keputusan yang kuambil juga didasarkan pada fakta tersebut. Karena sesungguhnya yang pasti itu cuma satu : kematian. Sedang kemalangan, sakit, keberuntungan, kesuksesan, menjadi kaya ataupun miskin di masa depan, semua itu hanya ilusi.

Masalahnya, aku tak tahu kapan aku akan mati. Ia bisa saja datang besok, lusa, seminggu, sebulan, tiga bulan, enam bulan, atau setahun lagi.

Nabi Muhammad sendiri memilih sikap yang jelas. Beliau tak pernah menumpuk harta, dan menganjurkan pada keluarganya untuk memilih sikap yang sama. Persediaan pangan beliau tak pernah lebih dari sehari. Karena beliau yakin, bahwa tiap hari memiliki rezekinya sendiri.

Satu hari Rasulullah tidur di atas tikar yang menimbulkan bekas guratan lambung di lambungnya. Beberapa sahabat berkata, “ Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau izinkan kami agar kami menghamparkan di bawah engkau yang lebih empuk dari tikar itu?” Beliau menjawab,

“Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan dunia seperti pengembara yang berjalan pada hari yang terik dibawah sebuah pohon, kemudian tiba waktu sore dan ia meninggalkannya.”

Gadis kecilku, Cinta, memiliki sebutan Zahida di ujung nama lengkapnya. Artinya adalah perempuan yang zuhud. Zuhud itu sendiri punya banyak definisi. Salah satu yang paling kusukai adalah :

tidak sedih saat ditinggalkan dunia
tidak senang saat mendapat dunia
tidak disibukkan oleh dunia hingga lupa kepada Allah

Akhir-akhir ini aku merasa, bahwa ternyata kesibukan duniawi di Purwokerto telah menenggelamkanku. Dan aku jadi lupa pada prinsip zuhud itu. Yang bahkan ingin kuwariskan pada anakku.

Terima kasih ya Allah karena malam ini Engkau telah mengingatkanku kembali. Betapa kasih sayangmu tak terbatas luasnya. Kuharap, begitu pula dengan samudra ampunanmu.

Amin.

foto merupakan hak milik : chiselstone<

Dalam Gundah

Hari-hari ini saya sering melihat diri sendiri. Bertanya, gelisah. Ragu pada masa depan.

Padahal, berapa banyak pasien yang begitu percaya pada saya, yang meletakkan hidup mereka pada keputusan yang saya buat?

Orang banyak mengacungkan jempol karena dalam waktu kurang dari setahun, mereka melihat antrian pasien di poli rumah sakit yang seperti pasar. Juga tumpukan status di tempat praktek pribadi yang terus bertambah.

Sayangnya, saya belum bisa, bahkan mungkin tak bisa, meletakkan kesuksesan dan kebahagiaan pada itu semua.

Passion saya adalah menjadi seorang guru sejati. Seseorang yang tidak hanya mendidik, tapi juga menginspirasi murid-muridnya. Saya juga ingin menjadi seorang penulis, yang kadang dalam satu periode hidup bisa menghabiskan hari bersetubuh dengan laptop, dan saat capek minum kopi di sebuah kafe yang hening.

Tentu saja saya senang menjadi dokter. Tapi tidak hanya dokter yang bisa menyembuhkan, tapi dokter yang bisa menyentuh hati, bahkan kalau bisa membahagiakan pasien-pasiennya.

Namun, bagaimana mungkin saya menyentuh hati manusia jika ada ada 60 orang menunggu di depan poli rumah sakit? Bahkan pada hari-hari tertentu, 100 pasien?

Hari-haripun kemudian berlalu seperti kereta Argo Wilis yang kemarin saya naiki dari Surabaya. Efektif. Efisien. Lurus. Terjadwal. Dingin.

Terus terang, saya merindukan hari-hari ketika hidup masih berjalan lambat. Saat saya masih bisa menjemput sorang gadis kecil sepulang les, lantas bersamanya duduk di kafe dekat toko buku Petra Togamas Surabaya.

Atau pergi tiba-tiba di satu subuh yang dingin, naik kereta ekonomi ke stasiun Sidoarjo. Menikmati matahari terbit dalam keremangan dan bau apek kereta bertiket 3500 rupiah. Nongkrong di warung depan stasiun, menulis, juga ngopi. Beberapa tulisan saya lahir di warung kelas rakyat itu.

Kini, saya seperti tersesat. Pusaran pasien, gelisah waktu yang terburu, bayang hitam janji-janji yang tak terpenuhi. Janji saya pada diri sendiri. Juga janji mereka, orang-orang yang meminta saya hadir di kota ini.

Saya ingin pulang. Tapi kemana?

Kenangan, Ketidakabadian

Saat kereta api memasuki Surabaya, hatiku penuh gairah. Berbagai kenangan memenuhi kepala.

Ah, betapa aku kangen pada kota ini, Surabaya yang kutinggali hampir 7 tahun lamanya. Aku melalui jalan-jalan lama itu dengan penuh antusias. Padahal baru sekitar 9 bulan aku meninggalkannya. Wajah-wajah kota, bersama dengan kenangan yang tersisa bermunculan. Membuatku terasa bebas dari rutinitas hidup di Purwokerto.

Namun bukan itu misi utamaku. Hari ini aku mengunjungi seorang guruku yang tengah sakit. Seorang Profesor yang sangat baik kepadaku. Salah satu orang pertama yang mengucapkan selamat saat tulisanku dimuat Jawa Pos. Lantas kadang dipanggilnya aku, dan kami berdiskusi tentang kehidupan. Bahkan kami juga bertukar buku. Satu hari aku menghadiahkan “Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai” karya Goenawan Mohamad, dan beliau memberiku “Para Pecinta Tuhan.”

Aku ingat, salah satu kisah favorit beliau adalah tentang filsafat di balik kisah perang Baratayuda di padang Kurusetra. Betapa nurani manusia ibarat kusir kereta, yang harus mengendalikan nafsu..

Kini kulihat beliau terbaring. Rapuh. Tak berdaya. Baru saja lepas dari alat bantu napas. Tubuhnya yang dulu tinggi besar jadi mengecil. Otot betis melayu. Nafas yang memendek. Mata yang sendu itu menatapku. Ingatan yang mulai pudar.
“Yusuf ya?”
Aku mengangguk, mencium tangannya.
“Nggih Prof. Yusuf. Dalem saking Purwokerto Prof. Khusus menengok Prof.”
Beliau terdiam. Mataku basah. Aku menangis dalam diam. Gerimis di luar. Aku tak sanggup melihatnya berlama-lama.

Keluar dari RS, wajahku tak secerah saat memasukinya. Diam-diam aku mencoba mencari jejakku di jalanan kota. Kumasuki gang yang melewati rumahku dulu. Tukang becak yang sama masih mangkal di depan gang. Rumah-rumah yang sama. Penjual pisang goreng yang tak berbeda. Mereka yang memutuskan untuk menua, lantas mati di satu tempat.

Itulah sebabnya dulu, satu saat dalam periode hidupku, aku pernah ingin jadi seorang pengembara. Seperti sajakku untuk seorang teman lama.

mau kemana lagi?
entah.
tuhan di langit diam saja.
kau kawin, beranak dan berbahagia.
aku juga bisa, pikirku.
berhenti di telpon umum, kujual motor tuaku, juga harga diri.
aku kawin, kerja, beranak, dan kata orang : berbahagia.
tiap kali kupandang langit, gunung dan jalan raya.
terasa maut menungguku di pojokan kamar mandi itu.
so, tak pernah aku berhenti
kusongsong ia kemana aku pergi
motor menderu, udara subuh dingin membeku
impian berlari sepanjang jalan

Ah, tiba-tiba aku ingin pulang. Di sini, aku dihimpit kenangan. Didera ketidakabadianku sendiri…

Empat Pertanyaan Tentang Aritmia pada Mitral Valve Prolapse (MVP)

1. Seberapa sering aritmia terjadi pada pasien MVP?
Beberapa studi menunjukkan angka prevalensi yang berbeda. Premature atrial contraction (PAC) muncul pada 35-90% pasien, Supra Ventrikel Takikardi (SVT) pada 3-32%, Premature Ventricular Contraction (PVC) pada 58-89%, sedang PVC kompleks pada 30-56% pasien.

2. Apa arti PVC pada seseorang?
PVC memiliki nilai prognostik yang sangat bervariasi. Mulai dari tak bermakna, hingga dihubungkan dengan peningkatan resiko ventrikel takikardi (VT), juga sudden cardiac death (SCD). Terutama pada pasien-pasien tertentu. Contoh adalah pada pasien dengan penurunan fungsi ventrikel kiri. Monomorfik VT sering dimulai dengan adanya PVC multipel. Begitu pula pada pasien paska infark miokard, kardiomiopati, serta gagal jantung. PVC memang dihubungkan dengan peningkatan resiko terjadinya VT. Bagaimana dengan pasien normal dengan PVC? Data yang ada saling bertentangan. Satu studi menunjukkan peningkatan tingkat mortalitas, sedang studi yang lain tidak.

3. Apakah resiko Sudden Cardiac Death(SCD) pada MVP meningkat?
Hubungan antara MVP dengan SCD tidaklah jelas. Beberapa studi menunjukkan kalau MVP berhubungan dengan meningkatnya kejadian SCD. Tetapi, Ventrikel Takikardi(VT) dan SCD juga bisa muncul pada pasien tanpa kelainan jantung. Sebuah laporan pada tahun 1987 menunjukkan bahwa angka kejadian SCD pada MVP sangatlah jarang, berkisar 1.9 % per 10.000 pasien per tahun. Studi ini juga menunjukkan bahwa tingkat resiko SCD meningkat seiring beratnya mitral regurgitasi.

4. Apa yang harus dilakukan seorang pasien MVP dengan PVC?

Pertama, dengarkan kata-kata kardiologmu. Ia akan menjelaskan secara medis apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan.

Kedua, jujurlah pada dirimu sendiri. Selalu ikuti kata hati. Bukan kata-kata orang lain. Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri, ‘Apakah ini hidup yang sungguh2 kuinginkan?’

Ketiga, jangan ada penyesalan. Jangan takut untuk mencoba. Jangan takut untuk berkata jujur.

Keempat, tebarkanlah kasih sayang. Pada siapapun. Meskipun ia orang tak dikenal yang duduk bersama saat menunggu giliran untuk bertemu dokter.

Kelima, jalani tiap hari seakan hari ini hari terakhir. Syukuri dan nikmati tiap detikmu. Hiduplah di masa kini. Bukan kegelisahan masa depan, apalagi beban masa lalu.

Itu saja.

Sepak Bola dan Kematian Mendadak (Suara Merdeka 3/3/2011)


BENARKAH sepak bola memicu serangan jantung? Bisakah futsal menyebabkan kematian mendadak? Jawabannya tak tergantung apakah Anda pro ISL atau pesaing barunya, Liga Premier Indonesia. Adalah fakta kalau beberapa selebriti Indonesia meninggal sesaat setelah memainkan bola bundar. Aktor Benyamin Sueb, pelawak Basuki, dan beberapa saat lalu artis Adjie Massa’id.

Selain mereka yang amatir, pemain profesional pun tak luput dari bahaya kematian dini akibat bermain bola. Bertahun lalu Eri Irianto dari Persebaya harus dilarikan ke RS saat pertandingan melawan PSIM, dan ia dinyatakan meninggal karena gagal jantung. Lepas dari kontroversi yang ada.

Masih ingat bintang sepakbola Kamerun Marc-Vivien Foe? Ia jatuh di lapangan hijau, dan meninggal mendadak di usia ke-28 saat melawan Colombia dalam semi final Piala Konfederasi tahun 2003. Nasib yang sama juga menimpa Miklos Feher, 24 tahun, stri-ker asal Hungaria di klub Benfica Portugal 7 bulan kemudian.

Ia terjatuh sesaat setelah tersenyum pada wasit yang memberinya kartu kuning. Begitu pula dengan Phil ”Donnell, 35 tahun, kapten tim Motherwell (Skotlandia) tahun 2007. Mereka hanya sebagian kecil dari para atlit muda yang mati mendadak saat bermain bola.

Tapi tak hanya pemain. Pe-nonton sepak bola pun berisiko mengalami kematian mendadak. Salah satu yang terdata adalah saat kekalahan tak terduga Brasil dari Uruguay di partai final Piala Dunia 1950. Terdapat tiga orang yang mati mendadak setelah bola masuk ke gawang Brasil saat injury time. Terakhir, seorang warga Makassar mengalami serangan jantung saat menonton pertandingan Indonesia melawan Filipina di piala AFF lalu.

Bagaimana dengan Anda? Tidakkah Anda juga berisiko mengalami kematian mendadak? Coba pegang pergelangan tangan Anda. Letakkan dua ujung jari tangan tepat di atas nadi. Sudah terasa denyutnya? Sekarang lihat jam dinding, lantas hitung jumlah nadi Anda selama 30 detik. Kalikanlah hasilnya dua kali. Berapa jumlah nadi istirahat Anda dalam satu menit? Berdasar hasil penelitian dokter Xavier Jouven dkk yang dimuat NEJM Mei 2005, bila nadi istirahat seseorang lebih dari 75 kali per menit, terjadi peningkatan risiko relatif sebesar 3,9 kali untuk mengalami kematian mendadak karena serangan jantung.
Penyumbatan Bagaimana dengan faktor risiko kematian mendadak yang lain? Apakah Anda memilikinya? Meski tidak semua kematian mendadak disebabkan serangan jantung, hampir 80 %-nya dipicu oleh penyumbatan pembuluh darah koroner. Terutama pada mereka yang tak lagi muda. Sumbatan tiba-tiba ini menyebabkan penurunan aliran darah, dan otot jantung pun tak lagi mendapat oksigen. Timbullah ketidakstabilan dari sistem listrik jantung yang memicu terjadinya gangguan irama.

Begitu pula jika sudah terdapat kelainan jantung yang lain, seperti pembesaran ruang jantung dan kelainan otot. Pada mereka yang berusia muda seperti pesepakbola Miklos Feher dan Marc Vivien Foe, hypertrophic cardiomyopathy (HCM), suatu kondisi dimana terdapat penebalan otot jantung tak wajar dituding menjadi penyebab utama. Gangguan irama jantung akan selalu membayangi kelainan ini.

Gangguan irama jantung paling fatal adalah kelainan yang disebut ventricular fibrillation (getar ventrikel). Ia bertanggung jawab pada 80 % kematian mendadak. Pada getar ventrikel, otot-otot ventrikel jantung hanya bergetar sangat hebat, tetapi sama sekali tidak memompa. Akibat ketiadaan aliran darah dan oksigen ke otak serta organ-organ penting lain, terjadilah kematian dini yang tak diharapkan.

So, jawaban pertanyaan di awal tulisan ini adalah YA. Sepak bola dan futsal memang bisa menjadi pemicu kematian mendadak dan serangan jantung yang fatal. Di Inggris, dalam penelitian yang berlangsung sepuluh tahun, terdapat 53 pemain sepak bola yang mengalami kematian mendadak, sebagian besar bermain di tingkat amatir. Namun ternyata ancaman ini tak terbatas pada sepak bola saja. Dari statistik, satu dari 15.000 orang yang melakukan jogging akan mengalami kematian mendadak karena kelainan jantung.

Karenanya, deteksi dini kelainan jantung, baik kelainan jantung koroner maupun kelainan otot jantung yang memicu kematian mendadak adalah kunci terpenting. Tes elektrokardiografi(EKG), tes treadmill dan ekhokardiografi adalah modalitas non invasif yang dimiliki dokter, terutama dokter spesialis jantung. Dari data tersebut, dokter akan bisa memberi saran tentang olah raga terbaik yang menyehatkan, bukan membahayakan. Nah, selamat bermain sepak bola, semoga sehat selalu!

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/03/138769/Sepak-Bola-dan-Kematian-Mendadak-

Aku vs Steve Jobs

Malam ini aku berangan, kapan ya aku bisa sesukses kawanku-kawanku? Seperti dr Wiku Andonotopo, PhD, SpOG di Tangerang dan dr Kurniawan Andy S SpOG di Tanjung Selor…. :)

Setelah melantunkan doa yang ‘setengah memaksa’ kepada Tuhan, aku pun beranjak tidur. Sayang kantuk tak kunjung datang.

Kupegang buku “Presentation. Secret of Steve Jobs” tulisan Carmine Gallo. Bagi yang belum tahu, Steve Jobs adalah pendiri Apple yang memproduksi Macbook, Iphone dan Ipad. Dan ternyata aku dihajar habis-habisan olehnya.

Pukulan pertama : Steve Jobs berkata,

“You’ve got to find what you love. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do.”

Ditimpali pukulan kedua oleh Chris Gardner(tokoh nyata film Pursuit of Happines) yang menurut Carmine Gallo pernah mengatakan bahwa alasan utama mengapa ia sukses adalah,

“Find something you love to do so much, you can’t wait for the sun to rise to do it all over again”

Terakhir adalah pukulan telak dari Steve Jobs.

“I was worth over a hundred million dollars when I was 25, and it wasn’t that important, because I never did it for money. Being the richest man in the cemetery doesn’t matter to me. But, going to bed at night and saying we’ve done something wonderful, that’s matter! ”

So, the conclusion is : “Do what you love, love what you do, never do it for money.”
Because, sambung temanku dr. Emil Parapat SpJP, “Sure, money will come…”

Amin… :) (isih ngarep jebule..)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.